Sisa bangunan dengan nama SD Negeri Kartini yang masih ada di dalam sekolah. Kisah Semarangan
Sisa bangunan dengan nama SD Negeri Kartini yang masih ada di dalam sekolah. Kisah Semarangan

Menilik SDN Sarirejo Kota Semarang, Sekolah Perempuan Pertama Dibangun RA Kartini

Inibaru • 09 November 2022 13:11
Semarang: Siapa yang tidak mengenal Raden Adjeng Kartini. Tokoh yang sering dipanggil dengan nama Ibu Kartini ini adalah Pahlawan Nasional yang lahir di Jepara pada 21 April 1879. Beliau dikenal sebagai pejuang emansipasi wanita.
 
Semasa hidup, Kartini melihat perempuan Jawa terkekang oleh peraturan adat. Perempuan dilarang bersekolah. Perempuan zaman itu dipingit untuk kemudian dinikahkan oleh orang yang tidak mereka kenal. Hal inilah yang membuat Kartini memperjuangkan hak-hak perempuan. Caranya adalah dengan membangun sekolah untuk perempuan.
 
Salah satu sekolah yang berdiri berkat perjuangan dan pemikiran Kartini adalah SD Negeri Sarirejo di Kota Semarang. Pembangunan sekolah ini berawal dari pembentukan komite pada 1912 oleh Abendanon dan Deventer. Mereka yang tergabung dalam komite tersebut adalah orang-orang yang teguh memperjuangkan pemikiran Kartini meski yang bersangkutan sudah meninggal sejak 1904.
 
Baca: Mengenal KGPAA Paku Alam VIII Pahlawan Nasional Baru Asal Yogyakarta

Pada 1912 pula, diresmikan Yayasan Kartini yang dipimpin oleh Conrad Theodore van Deventer. Yayasan ini memiliki sumber dana yang berasal dari penjualan surat-surat Kartini dan buku milik Raden Ajeng Kardinah Reksonegoro, adik kandung Kartini.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dari situlah, Yayasan Kartini berhasil mendirikan sekolah wanita bernama Sekolah Kartini di Semarang pada 1912. Di tahun pertamanya beroperasi, antusiasme perempuan untuk bersekolah di sana sangat besar. Tercatat, Sekolah Kartini menampung hingga 112 siswi. Jumlah ini terus meningkat seiring berjalannya waktu.
 
Dikutip pada Kisah Semarangan, sekolah yang kini bernama SD Negeri Sarirejo ini masih memiliki bangunan asli yang berdiri sejak 1912 lalu. Pihak sekolah pun mengusulkan sekolah ini ditetapkan sebagai salah satu cagar budaya.
 
Para guru juga ingin nama sekolah dikembalikan ke nama aslinya, yakni SD Kartini. Nama ini dianggap sesuai dengan nama jalan di depan sekolah tersebut yang juga memakai nama sang pahlawan.
 
Tidak hanya kaya akan nilai sejarah, sekolah ini ternyata juga masih memakai kurikulum pendidikan yang mendukung budaya Jawa. Jadi, jangan heran jika murid-muridnya berkesempatan untuk menjalani praktik membatik dan kegiatan berbudaya lainnya.
 
(WHS)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif