Gajah sumatera di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Seblat Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. (FOTO ANTARA/Helti Marini Sipayung/2022)
Gajah sumatera di kawasan Taman Wisata Alam (TWA) Seblat Kabupaten Bengkulu Utara, Provinsi Bengkulu. (FOTO ANTARA/Helti Marini Sipayung/2022)

Kawasan Hutan Habitat Gajah Sumatra di Bengkulu Diduga Diperjualbelikan

Antara • 24 Februari 2022 15:35
Bengkulu: Anggota Konsorsium Bentang Alam Seblat mengungkapkan dugaan jual beli kawasan hutan yang menjadi habitat kunci gajah Sumatra (Elephas maximus Sumatranus) tersisa di wilayah Kabupaten Bengkulu Utara dan Mukomuko, Provinsi Bengkulu.
 
"Hasil investigasi selama delapan bulan dan pemantauan rutin yang dilakukan secara kolaboratif mengungkap dugaan kuat jual beli kawasan hutan habitat gajah hingga ratusan hektare di wilayah Kabupaten Mukomuko," kata Penanggungjawab Konsorsium Bentang Alam Seblat, Ali Akbar di Bengkulu, Kamis, 24 Februari 2022.
 
Ali mengatakan jual beli kawasan hutan di habitat satwa langka itu justru melibatkan aparat pemerintah desa. Ia mengatakan hasil analisis tutupan hutan yang dilakukan Konsorsium Bentang Alam Seblat di wilayah kerja Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) koridor gajah seluas 80.987 hektare.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Saat ini diketahui seluas 39.812,34 ha atau 49 persen telah menjadi hutan lahan kering sekunder dan seluas 23.740,06 ha atau 29 persennya telah beralih fungsi menjadi nonhutan.
 
"Ada dua nama yang cukup sentral dalam dugaan jual beli kawasan hutan ini yaitu inisial TR dan HN, bahkan nama kedua orang ini dikenal sebagai nama jalan dalam kawasan hutan," katanya.
 
Baca: BKSDA Temukan Bangkai Gajah di Hutan Aceh Utara
 
Konsorsium menilai lemahnya penegakan aturan, terutama dari pemangku kawasan membuat aksi para mafia jual beli kawasan hutan ini semakin dilakukan secara terang-terangan.
 
Di kalangan masyarakat luas di wilayah ini bahkan harga pasaran kawasan hutan yang telah ditebang kayunya dan siap ditanami sawit dijual Rp10 hingga Rp15 juta per ha.
 
Akibatnya sejumlah kawasan yang mendapat tekanan tinggi akibat perambahan hutan ini antara lain Hutan Produksi Terbatas (HPT) Lebong Kandis, Hutan Produksi Air Rami dan Hutan Produksi Air Teramang.
 
Konsorsium telah membuat laporan kejadian tentang perambahan kawasan hutan ini ke Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Provinsi Bengkulu dengan dua orang terduga sebagai pelaku utama yaitu HN dan JD.
 
"Kami mendesak pemangku kawasan di DLHK untuk menindaklanjuti laporan kejadian ini sebagai salah satu upaya mempertahankan bentang alam seblat yang merupakan rumah terakhir bagi gajah Sumatera di Bengkulu," kata Ali Akbar.
 
Sementara dosen Jurusan Kehutanan Universitas Bengkulu (Unib), Gunggung Senoaji mengatakan kehilangan habitat menjadi salah satu ancaman bagi kelestarian gajah Sumatra di Bengkulu.
 
Populasi gajah Sumatra di Provinsi Bengkulu, sejauh ini makin mengkhawatirkan dengan estimasi populasi tersisa hanya mencapai 50 ekor. Kawanan ini terfragmentasi di beberapa kawasan hutan.
 
Satu dasawarsa sebelumnya, tercatat ada 16 ekor gajah di Bengkulu, ditemukan mati. Catatan ini kemudian bertambah lagi pada kurun 2018 hingga 2021, tiga ekor gajah ditemukan mati.
 
"Kematian ini terjadi secara tidak alami. Seperti diracun, ditembak dan diburu," kata Gunggung.

 
(WHS)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif