Pengungkapan pabrik produsen obat keras ilegal di Yogyakarta. Medcom.id/ Ahmad Mustaqim
Pengungkapan pabrik produsen obat keras ilegal di Yogyakarta. Medcom.id/ Ahmad Mustaqim

Pabrik Ilegal di Yogyakarta Produksi Ratusan Juta Butir Obat Perbulan

Ahmad Mustaqim • 27 September 2021 15:53
Yogyakarta: Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri membongkar operasional pabrik obat keras ilegel di Yogyakarta yang bisa memproduksi hingga ratusan juta butir per bulan.
 
Kabareskrim Polri, Komjen Agus Andrianto, mengatakan kasus di Yogyakarta ini pengembangan yang sudah diungkap di Jakarta dan sejumlah wilayah di Jawa Barat. Dua pabrik itu digrebek pada 21 September 2021.
 
"Jumlah obat keras ilegal yang bisa dihasilkan dari tujuh mesin produksi perhari adalah 14.000.000 butir Pil, berarti sebulan 420.000.000 butir," kata Agus di salah satu pabrik di Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin, 27 September 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: Polisi Selidiki Kasus Dugaan Pungli Insentif Petugas Pemakaman Covid-19
 
Agus mengatakan polisi menangkap dua tersangka yang pemproduksi obat-obatan ilegal itu yakni WZ dan seorang A di tempat kejadian perkara. Saat digeledah ditemukan mesin produksi, berbagai jenis bahan kimia, hingga obat-obatan siap kirim.
 
Kepada polisi, WZ mengaku sebagai penanggung jawab gudang. Dari informasi WZ, polisi menangkap seorang DA di salah satu Perumahan di Kecamatan Kasihan. Dari penangkapan itu, DA lantas diketahui memiliki satu pabrik lain di Desa Banyuraden, Kecamatan Gamping, Kabupaten Sleman.
 
"Sehingga pada hari Rabu, 22 September 2021 sekitar pukul 02.15 WIB, tim gabungan melakukan penggeledahan dan menemukan pabrik pembuatan dan penyimpanan obat keras," jelasnya.
 
Dari pengembangan itu, polisi menetapkan tiga orang sebagai tersangka. Ketiga orang itu JSR, 56, warga Kecamatan Gamping; DA, 49, warga Kecamatan Kasihan; dan WZ, 53, warga Kecamatan Karanganyar, Jawa Tengah.
 
"Berdasarkan keterangan para tersangka diketahui bahwa pabrik tersebut sudah beroperasi sejak tahun 2018 dan bisa memproduksi 2.000.000 butir obat-obatan ilegal per hari," jelas Agus.
 
Dari hasil itu, pihaknya masih menelusuri lebih lanjut. Di sisi lain polisi menyita sebuah mobil, jutaan butir obat keras, alat produksi, sejumlah mesin pewarna dan pendukung produksi, ribuan kilogram bahan baku, hingga tempat penyimpanan.
 
Polisi menjerat tiga orang dengan sejumlah pasal. Pasal-pasal yang digunakan di antaranya Pasal 60 UU Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja, subsider Pasal 196, serta lebih subsider Pasal 198 UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan. Ancaman pidananya paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp1,5 miliar.
 

 
 
(DEN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif