Cabai. Foto : MI.
Cabai. Foto : MI.

Dampak PPKM, Harga Cabai Rawit di Jatim Anjlok

Nasional pertanian harga cabai Petani cabai
Amaluddin • 09 September 2021 17:40
Surabaya: Harga cabai rawit di Jawa Timur, menurun drastis dari semula sekitar Rp15 ribu menjadi Rp7 ribu per kilogram. Penyebabnya karena hasil produksi melimpah dan dampak penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM). 
 
"Harga cabai rawit sempat pada kisaran Rp6.000-Rp7.000 per kilogram, kalau saat ini sudah Rp9.000 per kilogram. Naik tapi sedikit sekali," kata Wakil Ketua Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI) Jatim, Nanang Triatmoko, Kamis, 9 September 2021.
 
Nanang mengatakan ada beberapa daerah tengah musim panen cabai rawit di Jatim. Di antaranya Madura dan Banyuwangi. Puncak musim panen diperkirakan terjadi pada Oktober 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Harapan kami PPKM segera dibuka. Karena selama PPKM serapannya hanya 50 persen. Ini karena banyak Hotel, Restoran dan Kafe (Horeka) yang tutup, bahkan PKL juga. Kalau ini terus berlangsung, bisa dipastikan harga cabai rawit pada puncak panen semakin anjlok," ujarnya.
 
Baca juga: Bonus Rp250 Juta Menanti Atlet Kota Bekasi Peraih Emas
 
Harga rata-rata cabai rawit di Jatim berdasarkan Sistem Informasi Ketersediaan dan Perkembangan Harga Bahan Pokok (Siskaperbapo) adalah Rp15.851 per kilogram. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Jatim Hadi Sulistyo mengatakan, produksi cabai rawit pada September diperkirakan mencapai 33.736 ton. Kemudian pada Oktober mencapai 22.447 ton.
 
"Secara umum hingga akhir Desember produksi cabai rawit selama setahun mencapai 426.571 ton dengan konsumsi untuk pangan setahun 66.958 ton. Neraca pada 2021 surplus  359.613 ton," ujarnya.
 
Hadi menambahkan untuk produksi cabai besar pada September, diperkirakan mencapai 9.039 ton. Kemudian pada Oktober diperkirakan mencapai 7.189 ton. Secara umum, kata dia, hingga akhir Desember produksi cabai besar selama setahun mencapai 96.914 ton dengan konsumsi untuk pangan setahun 64.883 ton.
 
"Artinya neraca pada 2021 surplus 32.031 ton. Kalau terkait harga yang turun kemungkinan karena hasil produksi yang meningkat," kata Hadi. 

 
(MEL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif