Ilustrasi terorisme. medcom.id
Ilustrasi terorisme. medcom.id

Jateng Disebut Masih Jadi Episentrum Gerakan Terorisme

Mustholih • 22 September 2022 14:52
Semarang: Provinsi Jawa Tengah masih menjadi episentrum gerakan radikalisme dan terorisme. Detasemen Khusus 88 Anti Teror Polri mencatat hingga awal September 2022 terdapat 212 narapidana terorisme yang ditahan di Jawa Tengah.
 
Menurut Direktur Indentifikasi dan Sosialisasi Densus 88 Anti Teror Polri, Brigjen Arif Makhfudiharto, sebanyak 191 narapidana teroris saat ini ditahan di Lapas Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah. Sementara, narapidana teroris yang ditahan di luar Nusakambangan berjumlah 20 orang.
 
Arif menyatakan di Jateng, terdapat 230 mantan narapidana terorisme. Terbanyak berdomisili di Surakarta, Sukoharjo, dan Kota Semarang.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia mengungkap perlu kerja sama lintas sektoral dalam menanggulangi terorisme di Jawa Tengah, terutama dalam dalam memberikan pemahaman bahaya radikalisme kepada masyarakat.
 
"Ketika kita bisa bekerja sama, baik itu komunikasi, berkolaborasi, dan melaksanakan kegiatan yang lebih sinergi tentunya kita bisa menjadikan masyarakat paham bahwa mereka yang kita tangkap itu adalah korban dari ideologi yang disampaikan secara ekstrem yang ujungnya adalah melakukan pelanggaran hukum," ujar Arif menegaskan, Semarang, Jateng, Kamis, 22 September 2022.
 
Baca juga: Lagi, 4 Tersangka Teroris Ditangkap Densus 88

Arif menyatakan internalisasi nilai-nilai Pancasila kepada eks napiter dapat membuat mereka memiliki pendirian dan kecintaan kepada negara. Arif berujar penangkapan terhadap terorisme berdampak pada kondisi keluarga yang ditinggal di rumah.
 
"Mereka yang ditangkap itu korban dan yang terdampak adalah keluarganya. Maka kita coba berikan pemahaman kepada masyarakat bahwa mereka ini juga masyarakat, keluarga kita, dan berpikir yang kita perangi adalah perbuatannya bukan orangnya. Kita harus selamatkan keluarganya agar terputus dengan jaringan mereka (radikal)," jelas Arif.
 
Dalam menanggulangi radikalisme dan terorisme, kata Arif, Densus 88 melakukan deradikalisasi terhadap keluarga terorisme mulai dari pendidikan hingga kesehatan.
 
"Ini kami anggap lebih efektif karena anak-anak sangat rentan tetapi ketika diceramahi oleh penyintas menjadi lebih efektif sebagai narasumber," beber Arif.
 
Baca juga: Ganjar Disebut Tak Beri Toleransi Terhadap Radikalisme

Sementara itu Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mengaku mendukung upaya Densus 88 menanggulangi gerakan terorisme di jateng. Ganjar mengatakan mendukung program Densus 88 Antiteror untuk masuk ke sekolah-sekolah dengan melibatkan eks napiter sangat tepat.
 
"Tentu saja kita mesti mengajak banyak pihak untuk terlibat, terutama para aktor itu kita ajak menjadi juru bicara kita untuk menjelaskan deradikalisasi itu mesti dilakukan seperti apa, terorisme itu bahayanya seperti apa, dan masuk ke sekolah," jelas Ganjar.
 
Ganjar menyatakan sejauh ini sudah mencoba menggandeng eks Napiter untuk bercerita mengenai bahaya radikalisme dan terorisme melalui program Gubernur Mengajar.
 
"Maka tadi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Kesbangpol kita ajak agar semua masyarakat ikut terlibat, sehingga keperduliannya ada, awarenes-nya ada dan di antara warga yang lain tidak melakukan karena mendengar cerita mereka (eks napiter)," jelas Ganjar.
 
(MEL)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif