Tasikmalaya: Balai Besar Wilayah Sungai Citanduy (BBWS) melaporkan terajdi hujan lebat pada Minggu, 11 September kemarin dengan debit 154.00 milimeter selama 4 jam. Hal ini menyebabkan peningkatan debit Sungai Citanduy sebesar 845.6 meter kubik per detik.
Berdasarkan analisis hidrologi, debit air yang masuk dalam kategori Q200 (debit banjir terjadi selama periode 200 tahunan) dan menyebabkan terowongan pengelak berada di bawah tidak mampu mengalirkan air secara maksimal.
Humas Balai Besar Wilayah Sungai Citanduy (BBWS), Rahmat Syah, mengatakan, intensitas hujan tinggi menyebabkan limpasan pada tanggul terowongan setinggi 7,42 meter hingga masuk ke area proyek pekerjaan tubuh bendungan.
Namun, limpasan air Sungai Citanduy masuk ke area pekerjaan tubuh bendungan dan menyebabkan aktivitas pekerjaan dihentikan sementara.
"Tanggul yang jebol menyebabkan air Sungai Citanduy langsung masuk ke area pekerjaan tubuh bendungan dan kejadian tersebut tidak ada korban jiwa baik dari para pekerja maupun operator yang bekerja pada proyek bendungan Leuwikeris paket satu," kata Rahmat, Selasa, 13 September 2022.
Rahmat mengatakan, kenaikan muka air yang terjadi telah melebihi elevasi sensor AWLR Cirahong menyebabkan alat sensor menjadi tidak fungsi hingga menyebankan 11 unit alat berat tidak dapat dievakuasi dari 27 unit alat berat.
"Status tanggap darurat telah dilakukan oleh segenap tim proyek pembangunan bendungan Leuwikeris, dan telah melakukan persiapan untuk penanggulanan dengan pembuatan jalan akses menggunakan material rockfill menuju arah hulu inlet dari sisi Tasikmalaya ke Ciamis untuk kemudian dilakukan penyediaan material timbunan untuk penutupan area yang tergerus oleh limpasan air," ujarnya.
Menurutnya, ketika tanggul sudah mulai tersambung akan segera ditindaklanjuti dengan pengeringan serta pembersihan area kerja bendungan sehingga pelaksanaan pekerjaan tubuh bendungan dapat dikerjakan kembali.
"Kami sudah melakukan koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tasikmalaya dan Ciamis termasuknya Badan Meteologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam mitigasi potensi bencana hidrometeorologi. Karena, cuaca ekstrem akan terjadi tetapi berbagai upaya terus dilakukan agar para pekerja yang ada di bawah supaya mereka tetap siaga dan waspada," paparnya.
Tasikmalaya: Balai Besar Wilayah Sungai Citanduy (BBWS) melaporkan terajdi hujan lebat pada Minggu, 11 September kemarin dengan debit 154.00 milimeter selama 4 jam. Hal ini menyebabkan peningkatan debit
Sungai Citanduy sebesar 845.6 meter kubik per detik.
Berdasarkan analisis hidrologi, debit air yang masuk dalam kategori Q200 (debit banjir terjadi selama periode 200 tahunan) dan menyebabkan terowongan pengelak berada di bawah tidak mampu mengalirkan air secara maksimal.
Humas
Balai Besar Wilayah Sungai Citanduy (BBWS), Rahmat Syah, mengatakan, intensitas hujan tinggi menyebabkan limpasan pada tanggul terowongan setinggi 7,42 meter hingga masuk ke area proyek pekerjaan tubuh bendungan.
Namun, limpasan air Sungai Citanduy masuk ke area pekerjaan tubuh
bendungan dan menyebabkan aktivitas pekerjaan dihentikan sementara.
"Tanggul yang jebol menyebabkan air Sungai Citanduy langsung masuk ke area pekerjaan tubuh bendungan dan kejadian tersebut tidak ada korban jiwa baik dari para pekerja maupun operator yang bekerja pada proyek bendungan Leuwikeris paket satu," kata Rahmat, Selasa, 13 September 2022.
Rahmat mengatakan, kenaikan muka air yang terjadi telah melebihi elevasi sensor AWLR Cirahong menyebabkan alat sensor menjadi tidak fungsi hingga menyebankan 11 unit alat berat tidak dapat dievakuasi dari 27 unit alat berat.
"Status tanggap darurat telah dilakukan oleh segenap tim proyek pembangunan bendungan Leuwikeris, dan telah melakukan persiapan untuk penanggulanan dengan pembuatan jalan akses menggunakan material
rockfill menuju arah hulu inlet dari sisi Tasikmalaya ke Ciamis untuk kemudian dilakukan penyediaan material timbunan untuk penutupan area yang tergerus oleh limpasan air," ujarnya.
Menurutnya, ketika tanggul sudah mulai tersambung akan segera ditindaklanjuti dengan pengeringan serta pembersihan area kerja bendungan sehingga pelaksanaan pekerjaan tubuh bendungan dapat dikerjakan kembali.
"Kami sudah melakukan koordinasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Tasikmalaya dan Ciamis termasuknya Badan Meteologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) dalam mitigasi potensi bencana hidrometeorologi. Karena, cuaca ekstrem akan terjadi tetapi berbagai upaya terus dilakukan agar para pekerja yang ada di bawah supaya mereka tetap siaga dan waspada," paparnya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(WHS)