Warga Desa di Tuban borong 176 mobil. (ist)
Warga Desa di Tuban borong 176 mobil. (ist)

Warga Desa di Tuban Mendadak Kaya, Simak 6 Fakta yang Tak Banyak Orang Tahu

Adri Prima • 17 Februari 2021 13:25
Jakarta: Desa Sumergeneng, Kecamatan Jenu, Kabupaten Tuban, Jawa Timur, tiba-tiba saja menjadi pembahasan di jagat maya usai beredarnya video viral yang menunjukkan warga desa setempat ramai-ramai memborong ratusan mobil. Pengiriman mobil-mobil baru menuju Desa Sumergeneng juga dikawal kepolisian. 
 
Ada beberapa fakta menarik yang wajib kamu tahu soal warga Desa Sumergeneng yang mendadak kaya.

1. Borong 176 mobil

Warga Desa Sumurgeneng secara berkelompok membeli mobil di dealer-dealer yang berada di Surabaya dan Gresik. Selain mobil baru, beberapa juga membeli mobil bekas.

2. Dapat uang dari pembebasan lahan

Warga Desa Sumergeneng, Tuban bisa kaya mendadak usai mendapatkan uang dari hasil penjualan tanah dari grass root refinery (GRR) kilang minyak yang melibatkan Pertamina-Rosneft, perusahaan asal Rusia. Kilang minyak tersebut memiliki luas sekitar 1.050 hektare. Terdiri atas 821 hektare lahan darat yang tersebar di Desa Kaliuntu, Wadung, Sumurgeneng, Perhutani dan KLHK, serta sisanya reklamasi laut.

3. Warga Desa Sumergeneng kantongi Rp8 miliar - Rp26 miliar

Sebagian besar warga mendadak jadi miliarder karena memperoleh duit sebesar Rp 8 miliar-Rp 10 miliar. Warga yang punya lahan 4 hektare bahkan menerima hingga Rp 26 miliar. 

4. 225 KK yang menjual lahannya

Desa Sumurgeneng memiliki 840 kepala keluarga (KK). Dari jumlah itu, ada sekitar 225 KK yang lahannya dijual karena termasuk dalam penetapan lokasi kilang minyak. 

5. Lahan warga dibeli lebih mahal dari harga pasaran

Disebutkan nilai tanah dibeli dengan harga Rp600-800 ribu per meter. Harga tersebut jauh lebih tinggi dari harga tanah di sana yang biasanya Rp100-150 ribu. 

6. Uang hasil jual lahan tidak dipakai untuk usaha

Dikutip dari berbagai sumber, Kepala Desa Sumergeneng Gihanto membeberkan kalau warga lebih memilih membeli mobil dan membangun rumah dari hasil penjualan lahan mereka dan hanya sedikit warga yang memakainya untuk membuka usaha. 
 
"Warga yang menggunakan uangnya untuk usaha sangat minim, jadi jangan heran kalau di kampung sini cari warung makan aja susah," kata Gihanto.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


(UWA)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif