Pekanbaru: Pemerintah Provinsi Riau mendapat bantuan enam alat polymerase chain reaction (PCR) untuk uji sampel covid-19 dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Peranti tersebut diharapkan bisa mengantisipasi lonjakan kasus baru di daerah itu.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Mimi Yuliani Nazir, mengatakan alat bantuan tersebut akan ditempatkan di Kota Pekanbaru, Dumai, dan Kabupaten Siak. Tim dari BNPB telah melakukan pemeriksaan kesiapan laboratorium biomolekuler di RSUD Arifin Ahmad, RSUD Siak, dan RSUD Dumai.
Menurut Mimi, dengan bantuan alat PCR itu pemeriksaan sampel dari uji usap tidak lagi bertumpu pada laboratorium biomolekuler di RSUD Arifin Achmad. Laboratorium biomolekuler akan ada di tiga daerah sehingga pemeriksaan uji sampel akan dibagi dalam beberapa wilayah terdekat.
Baca juga: Lagi, Dokter Spesialis di Aceh Gugur Melawan Covid-19
“Kita masih menunggu kiriman alat PCR dari pusat. Nanti yang diminta ke BNPB itu ada enam unit," ujarnya, melansir Antara, 30 September 2020.
Ia menjelaskan, dua unit alat PCR akan memperkuat laboratorium biomolekuler yang sudah ada di RSUD Arifin Achmad, Kota Pekanbaru.
Kemudian dua unit akan ditempatkan di RSUD Siak, yang rencananya menjadi lokasi pemeriksaan sampel untuk wilayah Siak, Bengkalis, dan Pelalawan. Sedangkan, dua alat lagi ditempatkan di RSUD Dumai, yang akan mengakomodasi area Dumai, Bengkalis Rupat, Bengkalis Duri, dan Kepulauan Meranti.
"Agar nantinya pemeriksaan sampel tidak menumpuk dan menunggu di laboratorium biomolekuler RSUD Pekanbaru lagi," jelasnya.
Ia mengatakan sejumlah pemerintah daerah di Riau kini sedang dalam proses untuk mengadakan lab biomolekuler secara mandiri dari pembiayaan APBD. Namun, saat ini masih dalam proses pengadaan dan belum ada satupun alat PCR yang sudah beroperasi.
“PCR harus ada persiapan dulu, kalau kita maunya cepat datangnya. Daerah yang punya PCR sendiri masih berproses, Inhil berproses, Dumai berproses, Pekanbaru berproses, Kampar berproses, di Rohil kabarnya mau mengadakan, Siak berproses, tapi belum ada yang operasional,” beber dia.
Lonjakan kasus baru yang melanda Riau sejak Agustus membuat laboratorium biomolekuler di RSUD Arifin Achmad kerja ekstra keras karena banyaknya sampel yang masuk, baik dari pasien maupun kontak erat pasien.
Baca juga: Wagub Kalimantan Barat Mengaku Terpapar Covid-19
Meski manajemen RSUD sudah meningkatkan kapasitas mesin hingga bisa memeriksa 1.500 sampel per hari, namun antrean sampel yang harus diuji sudah melebihi kapasitas. Hal ini juga berkaitan dengan ketersediaan bahan dasar (reagen) untuk uji PCR yang barangnya masih harus impor.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Riau, hingga Rabu siang, jumlah akumulatif kasus covid-19 di Riau mencapai 7.271 orang, dan 3.603 sudah dinyatakan sembuh. Pasien yang masih butuh perawatan di RS rujukan ada 949 orang, sedangkan yang isolasi mandiri ada 2.568 orang.
"Sementara yang meninggal ada 151 orang," imbuh Mimi.
Pekanbaru: Pemerintah Provinsi Riau mendapat bantuan enam alat polymerase chain reaction (PCR) untuk uji sampel covid-19 dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Peranti tersebut diharapkan bisa mengantisipasi
lonjakan kasus baru di daerah itu.
Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Riau, Mimi Yuliani Nazir, mengatakan alat bantuan tersebut akan ditempatkan di Kota Pekanbaru, Dumai, dan Kabupaten Siak. Tim dari BNPB telah melakukan pemeriksaan kesiapan laboratorium biomolekuler di RSUD Arifin Ahmad, RSUD Siak, dan RSUD Dumai.
Menurut Mimi, dengan bantuan alat PCR itu pemeriksaan sampel dari uji usap tidak lagi bertumpu pada laboratorium biomolekuler di RSUD Arifin Achmad. Laboratorium biomolekuler akan ada di tiga daerah sehingga pemeriksaan uji sampel akan dibagi dalam beberapa wilayah terdekat.
Baca juga:
Lagi, Dokter Spesialis di Aceh Gugur Melawan Covid-19
“Kita masih menunggu kiriman alat PCR dari pusat. Nanti yang diminta ke BNPB itu ada enam unit," ujarnya, melansir Antara, 30 September 2020.
Ia menjelaskan, dua unit alat PCR akan memperkuat laboratorium biomolekuler yang sudah ada di RSUD Arifin Achmad, Kota Pekanbaru.
Kemudian dua unit akan ditempatkan di RSUD Siak, yang rencananya menjadi lokasi pemeriksaan sampel untuk wilayah Siak, Bengkalis, dan Pelalawan. Sedangkan, dua alat lagi ditempatkan di RSUD Dumai, yang akan mengakomodasi area Dumai, Bengkalis Rupat, Bengkalis Duri, dan Kepulauan Meranti.
"Agar nantinya pemeriksaan sampel tidak menumpuk dan menunggu di laboratorium biomolekuler RSUD Pekanbaru lagi," jelasnya.
Ia mengatakan sejumlah pemerintah daerah di Riau kini sedang dalam proses untuk mengadakan lab biomolekuler secara mandiri dari pembiayaan APBD. Namun, saat ini masih dalam proses pengadaan dan belum ada satupun alat PCR yang sudah beroperasi.
“PCR harus ada persiapan dulu, kalau kita maunya cepat datangnya. Daerah yang punya PCR sendiri masih berproses, Inhil berproses, Dumai berproses, Pekanbaru berproses, Kampar berproses, di Rohil kabarnya mau mengadakan, Siak berproses, tapi belum ada yang operasional,” beber dia.
Lonjakan kasus baru yang melanda Riau sejak Agustus membuat laboratorium biomolekuler di RSUD Arifin Achmad kerja ekstra keras karena banyaknya sampel yang masuk, baik dari pasien maupun kontak erat pasien.
Baca juga:
Wagub Kalimantan Barat Mengaku Terpapar Covid-19
Meski manajemen RSUD sudah meningkatkan kapasitas mesin hingga bisa memeriksa 1.500 sampel per hari, namun antrean sampel yang harus diuji sudah melebihi kapasitas. Hal ini juga berkaitan dengan ketersediaan bahan dasar (reagen) untuk uji PCR yang barangnya masih harus impor.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Riau, hingga Rabu siang, jumlah akumulatif kasus covid-19 di Riau mencapai 7.271 orang, dan 3.603 sudah dinyatakan sembuh. Pasien yang masih butuh perawatan di RS rujukan ada 949 orang, sedangkan yang isolasi mandiri ada 2.568 orang.
"Sementara yang meninggal ada 151 orang," imbuh Mimi.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(MEL)