Ilustrasi. Foto: dok PLN.
Ilustrasi. Foto: dok PLN.

Kampung Terpencil di Kediri Dipastikan Terjangkau Aliran Listrik

Antara • 04 Agustus 2022 17:56
Kediri: Pemerintah Kabupaten Kediri, Jawa Timur, berkoordinasi dengan PLN Kediri memastikan Kampung Onggoboyo, Desa Babadan, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri, yang berada di kaki Gunung Kelud, mendapat jaringan listrik.
 
Lokasi tersebut diketahui berada pada ketinggian 1.731 meter di atas permukaan laut dan merupakan kampung terpencil.
 
"Ini salah satu pekerjaan rumah yang harus diprioritaskan, supaya jaringan listrik PLN bisa masuk ke Kampung Onggoboyo. Kami berkomunikasi dengan PTPN X. Bagi kami di pemerintahan, pemerataan adanya listrik itu adalah suatu keniscayaan tersendiri," kata Bupati Kediri, Hanindhito Himawan Pramana, Kamis, 4 Agustus 2022.
 
Baca: Pemkab Bekasi Lirik Teknologi Olah Sampah Kota Surakarta

Dia menjelaskan di Kampung Onggoboyo, Desa Babadan tersebut hingga kini belum terpasang jaringan listrik. Pihaknya sedang memetakan terkait dengan program pemasangan jaringan listrik tersebut. Selain harus komunikasi dengan PLN, juga harus koordinasi dengan PTPN X.

Kampung Onggoboyo berada di tengah perkebunan tebu milik PTPN X yang berlokasi di Dusun/Desa Babadan, Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri. Kampung itu jauh dari kampung lainnya. Lokasinya di kaki Gunung Kelud, yang berada di Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri.
 
Di tempat tersebut, terdapat 17 kepala keluarga (KK) yang hingga kini masih tinggal. Aktivitas warga lebih banyak menjadi buruh tani dengan pendapatan yang tidak tentu.
 
Hingga kini jaringan listrik dari PLN belum masuk, sehingga untuk penerangan warga mengandalkan penerangan dari mesin genset.
 
Sementara Ketua RT di Kampung Onggoboyo, Sutikno, mengatakan pada 2014 warga sebenarnya telah mendapatkan bantuan penerangan berupa solar cell dari Bupati yang menjabat saat itu, namun karena daya tahan penyimpanan baterai yang tidak lama, penerangan pun kurang optimal.
 
Hingga kemudian warga bernisiatif menggunakan mesin genset supaya malam hari tetap bisa mendapatkan penerangan.
 
"Genset itu pun 1 liter bahan bakar habis untuk tiga jam," kata Sutikno yang mengaku sudah tinggal di kampung ini sejak 1984.
 
Ia mengatakan, anak-anak yang tinggal di kampung ini juga belajar seperti biasanya, namun saat pandemi covid-19 sempat kesulitan, karena proses belajarnya lewat daring. Beberapa anak harus ke luar kampung untuk belajar.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(DEN)


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>