Ilustrasi--Penjualan seragam sekolah di Jatinegara, Jakarta. (Foto: ANTARA/Muhammad Adimaja)
Ilustrasi--Penjualan seragam sekolah di Jatinegara, Jakarta. (Foto: ANTARA/Muhammad Adimaja)

Pungutan Seragam di SMK Bawen Semarang Dihentikan

Nasional seragam sekolah Metode Pembelajaran pandemi covid-19
Media Indonesia.com • 31 Agustus 2021 12:03
Semarang: Setelah mendapat kritikan dan protes orang tua murid, akhirnya pemungutan pembelian paket seragam sekolah seharga Rp1,9 juta per siswa di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Negeri 1 Bawen, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, dihentikan.
 
Pemantauan di lokasi, Selasa, 31 Agustus 2021, suasana SMK Negeri 1 Bawen, Kabupaten Semarang, kembali lengang. Tak tampak kesibukan orang tua siswa yang datang untuk membayar paket seragam sekolah seharga Rp1, 9 juta per siswa seperti terlihat pada Senin, 30 Agustus 2021.
 
Pembayaran paket seragam sekolah untuk siswa baru yang dijadwalkan mulai 30 Agustus hingga 3 September mendatang dihentikan lantaran menuai kritik dari orang tua siswa. Pasalnya, selain kondisi ekonomi yang belum membaik akibat pandemi, sekolah belum akan melaksanakan pembelajaran tatap muka.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Melalui surat edaran ditandatangani Ketua Paguyuban Orang Tua Murid Slamet Partono dan Ketua Komite Sekolah SMK Negeri 1 Bawen Supriadi, dituliskan bahwa pengadaan dan pembelian seragam sekolah dihentikan dan surat edaran sebelumnya tentang pembelian seragam unntuk tahun pendidikan 2021-2022 dianggap tidak ada.
 
Baca juga: Kepala Puskesmas di Bengkulu Dicopot Gara-gara Tolak Pasien BPJS
 
Penghentian pembelian seragam dinilai memaksa oleh paguyuban orang tua siswa tersebut, berdasarkan surat edaran terbaru yang dikeluarkan karena menimbang berbagai masukan yang diterima dari berbagai pihak. 
 
"Kalau tidak dihentikan kita akan usut sampai tuntas," ujar Ketua Pencegahan Korupsi
dan Pungli Jawa Tengah Suyana Hadi.
 
Menurut Suyana, pengadaan seragam itu melanggar aturan pendidikan. Karena sekolah dijadikan ajang bisnis oleh pihak tertentu dan tidak melihat kondisi ekonomi yang dialami orang tua siswa.
 
Bahkan berdasarkan surat edaran paguyuban itu, demikian Suyana, jelas sekali bahwa pihak tersebut mencari keuntungan dengan memanfaatkan paket seragam. Karena harga dicantumkan di setiap item cukup tinggi hingga 2-3 kali lipat dari harga umum.
 
"Seperti seragam OSIS di pasaran (harganya) dibawah Rp150 ribu per setel tapi dijual Rp270 ribu per setel. Termasuk harga seragam pramuka, seragam khusus dan lainnya," jelas Suyana. (Akhmad Safuan)

 
(MEL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif