ilustrasi Medcom.id
ilustrasi Medcom.id

Dosen di Makassar Babak Belur Jadi Korban Salah Tangkap Saat Demo

Nasional Omnibus Law Demo Tolak Omnibus Law UU Cipta Kerja
Muhammad Syawaluddin • 11 Oktober 2020 15:32
Makassar: Seorang dosen di salah satu perguruan tinggi swasta di Kota Makassar, Sulawesi Selatan, AW, menjadi korban salah tangkap polisi saat unjuk rasa tolak pengesahan Undang-Undang Omnibus Law pada 8 Oktober 2020.
 
Dosen muda bergelar doktor itu babak belur dan mengalami luka parah pada bagian wajah, kepala, dan paha akibat pukulan yang dilayangkan oleh oknum polisi saat menyisir dan menangkap dosen tersebut bersama dengan massa aksi lainnya.
 
"Saya ditangkap saat tengah berdiri di depan salah satu minimarket di depan kantor gubernur," kata AW, saat dikonfirmasi, di Makassar, Sulawesi Selatan, Minggu, 11 Oktober 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Baca: Polisi Klaim Persuasif Amankan Demo Tolak UU Ciptaker
 
Aw menjelaskan kejadian itu berawal saat dirinya berada di depan salah satu minimarket di Jalan Urip Sumoharjo, Kota Makassar. Dirinya berada di lokasi itu setelah makan dan hendak menuju ke tempat print yang berada di depan Kampus Universitas Bosowa.
 
Hanya saja karena kondisi unjuk rasa saat itu tidak memungkinkan, dirinya terjebak. Sehingga ia singgah di depan minimarket sambil menunggu situasi reda untuk kemudian ke tempat yang ia tuju. Saat itu seorang polisi tiba-tiba datang dan menangkap semua yang diduga terlibat dalam aksi unjuk rasa itu.
 
"Saat itu saya mundur mendekat ke minimarket dan saya tidak lari, karena saya tidak terlibat dalam aksi itu," jelasnya.
 
Polisi yang melihatnya berada di dekat minimarket langsung menarik dan menyeret korban hingga beberapa kali jatuh akibat pukulan yang dilayangkan oleh oknum polisi dengan menggunakan tameng. Meski sempat mengeluarkan KTP dan mengatakan bahwa ia tidak terlibat (dalam aksi) dan ia adalah seorang dosen.
 
"Saya keluarkan KTP dan bilang bahwa saya adalah dosen. Tapi tetap dibawa," ungkapnya.
 
Pemukulan terhadap dirinya tidak sampai disitu, saat berada di dalam mobil, ia juga masih sempat memberitahu bahwa ia adalah dosen. Namun tidak dihiraukan oleh oknum polisi yang langsung memukul kepalanya dengan sangat keras sehingga menyebabkan lebam dan merah.
 
"Saat di mobil juga saya beritahu bahwa saya adalah dosen. Meski ada salah satu pimpinan di mobil saat itu yang memberitahu bahwa jangan ada yang memukul. Tapi saat pimpinan itu keluar saya tetap dipukul," bebernya.
 
Tidak hanya kekerasan fisik yang korban alami, ia bercerita bahwa saat di mobil oknum polisi juga melontarkan kekerasan verbal yang membawa nama profesinya sebagai seorang dosen yang ia nilai tidak pantas dilontarkan oleh oknum penegak hukum seperti polisi.
 
Akibat kekerasan yang dialaminya korban mengalami beberapa luka seperti setengah wajah mengalami lebam, goresan pada wajah, dan pendarahan pada mata. Luka bagian mulut, luka lebam pada punggung dan paha sebelah kanan, serta pembengkakan pada daerah kepala.
 
"Saya di Polrestabes Makassar 1x24 jam. Itupun setelah salah satu pejabat di lokasi saat itu mendengar penjelasan saya dan melihat kondisinya saya yang harus mendapatkan perawatan medis," ujarnya.
 
(DEN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif