Temuan Terawan sudah Sesuai Standar Akademik
Prof Irawan Yusuf, Irawan, promotor dr Terawan saat promosi disertasi program S3 di Unhas
Makassar: Guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin Profesor Irawan Yusuf angkat bicara seputar polemik Terawan Agus Putranto. Belakangan Terawan marak dibicarakan karena temuannya soal metode ‘cuci otak’ atau Digital Subtraction Angiography (DSA).

Irawan, promotor Terawan saat promosi disertasi program S3 di Unhas pada Oktober tahun 2016 mengatakan, DSA sudah melalui metode penelitian sesuai standar ilmiah. Karena itu, meski dianggap telah melanggar kode etik Ikatan Dokter Indonesia (IDI), temuan Terawan itu disebut tidak bermasalah pada sisi akademik.

“Dalam dunia kedokteran, hampir semua teknologi yang dibuat dengan inovasi, dimulai dengan kontroversi. Ini memang harus diselesaikan dengan riset dengan waktu yang panjang,” kata Irawan Yusuf pada konferensi pers di kampus Unhas Jalan Perintis Kemerdekaan Makassar, Jumat, 6 April 2018.


Baca: Forum Khusus Pembelaan Terawan Segera Digelar

Irawan menilai, selama ini yang menjadi kontroversi Terawan adalah promosi dan praktik pemanfaatan temuan DSA. Meski telah teruji secara akademis, temuan tersebut harus lebih dulu melalui uji klinik dengan mengacak pasien jika ingin diperkenalkan kepada masyarakat luas. 

Menurut Irawan, perguruan tinggi yang bertanggung jawab soal akademis, tak berwenang soal pelaksanaan praktik hasil inovasi di bidang kedokteran. Hal itu jadi urusan organisasi profesi seperti IDI. Namun dia berharap Terawan diberi kesempatan untuk membela diri.

“Jika memungkinkan, dia harus memberi penjelasan. Seandainya Terawan dan IDI bisa bangun komunikasi dengan baik, polemik ini tidak perlu terjadi,” ujarnya.

Baca: Tuhan Mengirim Dokter Terawan Menyelamatkan Putri Saya

Inovasi DSA atau metode ‘cuci otak’ Terawan, Irawan menjelaskan, berperan meningkatkan aliran darah otak pada pasien stroke kronis. Dengan ini, suplai darah ke jaringan otak lebih baik sehingga obat dan nutrisi bisa menjangkau lebih dalam.

Dengan DSA, window periode atau jendela di jaringan otak bisa terbuka lebih lama. Sehingga membantu terapi pengobatan konvensional bisa efektif. Bukan berarti inovasi ini bisa digunakan sebagai pengganti terapi pengobatan stroke konvensional.

“Saya menegaskan temuan Terawan belum dapat digunakan sebagai terapi alternatif menggantikan terapi konvensional. Tapi hanya meningkatkan aliran darah otak sehingga terapi konvensional bisa dilakukan secara terencana,” kata Irawan. 





(ALB)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id