Arsip Foto Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Solok Selatan Firdaus Firman (kiri) menyerahkan bantuan kepada keluarga yang memiliki anak stunting di Koto Tinggi, Kabupaten Solok Selatan. Antara/Joko Nugroho
Arsip Foto Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Solok Selatan Firdaus Firman (kiri) menyerahkan bantuan kepada keluarga yang memiliki anak stunting di Koto Tinggi, Kabupaten Solok Selatan. Antara/Joko Nugroho

364 Anak di Solok Selatan Alami Stunting

Antara • 29 November 2022 12:44
Padang Aro: Prevalensi kasus stunting di Kabupaten Solok Selatan, Sumatra Barat, sekitar 3,4 persen berdasarkan hasil pengukuran tinggi badan terhadap 10.666 anak berusia nol sampai 59 bulan di seluruh puskesmas.
 
Ketua Tim Percepatan Penurunan Stunting (TPPS) Kabupaten Solok Selatan, Yulian Efi, mengatakan menurut hasil pengukuran ada 364 anak usia nol sampai 59 bulan yang mengalami stunting di wilayah Solok Selatan.
 
"Hasil pengukuran menunjukkan prevalensi stunting paling tinggi di Kecamatan Sangir Jujuan, yakni 8,2 persen dari 929 anak yang menjalani pengukuran," kata Yulian di Padang Aro, Selasa, 29 November 2022.
 
Baca: Stunting Disebut Disebabkan Gizi Kronis dan Infeksi

Kecamatan Sangir Batang Hari berada di peringkat kedua dengan prevalensi stunting 7,7 persen dari total 862 balita yang menjadi sasaran pengukuran, sementara Kecamatan Sangir Balai Janggo menempati peringkat ketiga dengan prevalensi stunting 4,1 persen dari 1.249 balita yang menjadi target pengukuran.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di urutan keempat ada Kecamatan Sungai Pagu dengan prevalensi stunting 3,4 persen dari 2.096 balita yang menjalani pengukuran tinggi badan.
 
Kecamatan Koto Parik Gadang Diateh, Pauh Duo, dan Sangir menempati posisi tiga terbawah dengan prevalensi stunting secara berturut-turut 3,3 persen dari 1.795 balita, 1,7 persen dari 1.485 balita, dan 0,7 persen dari 2.250 balita.
 
"Bahwa data hasil pengukuran balita tersebut akan dijadikan sebagai masukan dalam penyusunan strategi dan program percepatan penurunan stunting," jelas Yulian.
 
Pemerintah Kabupaten Solok Selatan meminta anggota TPPS menggiatkan pemantauan pelaksanaan program pemeliharaan kebersihan lingkungan, pemantauan tumbuh kembang anak, dan penyuluhan mengenai pencegahan stunting.
 
Stunting adalah kekurangan gizi kronis yang menyebabkan pertumbuhan anak terganggu sehingga badannya menjadi tengkes, lebih pendek dibandingkan rata-rata tinggi badan anak-anak seusianya.
 
Selain menghambat pertumbuhan fisik dan meningkatkan risiko mengalami penyakit degeneratif, stunting dapat mengganggu perkembangan kecerdasan anak serta bisa menurunkan kemampuan kognitif mereka.
 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun google news medcom.id
 

 
 
(DEN)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif