ilustrasi antrean di SPBU.
ilustrasi antrean di SPBU.

Kohati HMI Desak Polri Tindak Aparat Penganiaya Demonstran Perempuan di Dompu NTB

Whisnu Mardiansyah • 03 September 2022 22:32
Jakarta: Korps HMI-Wati menyesalkan tindakan represif aparat di Dompu, Nusa Tenggara Barat dalam mengamankan demonstrasi penolakan kenaikan harga BBM. Seorang kader HMI perempuan mengalami cedera usai dianiaya aparat. 
 
Sebagai organisasi mahasiswa tertua di Indonesia, Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) telah banyak menorehkan sejarah perjalanan bangsa ini. Komitmen menjaga utuhnya kebijakan yang berpihak terhadap rakyat merupakan nafas perjuangan HMI. 
 
"Kader HMI-Wati Cabang Dompu mengalami penganiayaan oleh oknum kepolisian hingga  mengakibatkan cedera di bagian kepala dan trauma psikologis. Padahal jelas bahwa menyampaikan pendapat di ruang publik dilindungi oleh konstitusi," kata Ketua Umum Pengurus Besar Korps HMI-Wati (Kohati) Umiroh Fauziah di Jakarta, Sabtu, 3 September 2022. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Fauziah menyesalkan dan kejadian ini sangat  menyayat hati kader hingga alumni HMI, khususnya lagi Kohati PB HMI. Terlebih korban adalah perempuan yang semestinya dilindungi dan diayomi. 
 
"Maka Kohati tentunya perlu mengambil sikap tegas atas kejadian tersebut. Maka dari itu, Kohati PB HMI meminta agar institusi Polri segera mengevaluasi Polda Nusa Tenggara Barat dan Polres Kabupaten Dompu," tegas Fauziah. 
 
Baca: 150 Anggota Polisi Disiagakan Amankan 27 SPBU di Garut
 
Menurut Fauziah, aksi represif aparat  tentu sangat bertentangan dengan nilai presisi yang digaungkan oleh Polri. Selain itu, tindakan penganiayaan tersebut menyalahi semangat gerakan stop kekerasan terhadap perempuan. 
 
"Tindakan kekerasan anggota kepolisian tersebut semakin memperburuk citra Polri yang banyak mendapat sorotan masyarakat belakangan ini," tegasnya. 
 
Selanjutnya, tindakan represif aparat kepolisian tersebut seolah membenarkan kesewenang-wenangan institusi Polri terhadap hukum dan kepentingan rakyat sangatlah nyata di depan mata. 
 
"Ditambah dengan tragedi kematian Brigadir J sebagai korban dugaan pembunuhan berencana yang dilakukan oleh Mantan Kadiv Propam Mabes Polri, Irjen Pol  Ferdy Sambo," ujar Fauziah. 
 
Fauziah menilai kejadian ini sebagai gagalnya Kapolri dalam melakukan pembinaan terhadap anggotanya. Selain itu dapat dinilai sebagai upaya pembiaran terhadap aksi nakal para pembantunya. 
 
"Meminta Kapolri bertanggung jawab atas tindakan penganiayaan yang dilakukan oleh aparat kepolisian terhadap anggota Kohati," ujarnya. 
 
Kohati HMI pun meminta sejumlah tuntutan. Di antaranya meminta Presiden Republik Indonesia untuk segera melakukan reformasi birokrasi Polri secara struktur dan kultur. 
 
"Jika dalam waktu 1x24 jam tidak ada penindakan terhadap oknum polisi yang melakukan  tindakan represif terhadap kader HMI-Wati dalam aksi penolakan kenaikan harga BBM bersubsidi dan penjelasan serta penyikapan terhadap tuntutan lainnya, maka Korps HMI-Wati, PB HMI bersama Kohati Badko, Kohati HMI Cabang dan keluarga besar Kohati akan melakukan aksi serentak secara nasional pada Senin, 5 September 2022," tutupnya.
 
(WHS)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif