KRI Nanggala-402 dikabarkan hilang kontak di Perairan Bali. Dok. Antara
KRI Nanggala-402 dikabarkan hilang kontak di Perairan Bali. Dok. Antara

Pakar Kelautan Analisis 2 Faktor KRI Nanggala Hilang Kontak

Amaluddin • 22 April 2021 20:19
Surabaya: Pakar Kelautan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Wisnu Wardhana, menyebut ada dua faktor penyebab KRI Nanggala-402 hilang kontak di Perairan Bali bagian utara. Pertama, kerusakan alat teknis, dan kedua media air laut.
 
"Pada kasus Kapal Selam Nanggala ini harus dilihat dari beberapa sisi. Apakah akibat media air yang resultannya nol ataukah kerusakan peralatan teknis," kata Wisnu, dikonfirmasi, Kamis, 22 April 2021.
 
Wisnu menjelaskan, sistem komunikasi pada kapal selam ada dua, yaitu saat kapal di permukaan dan kapal di bawah permukaan air. Jika berada di permukaan air, kata Wisnu, sebagian badan kapal selam muncul di permukaan komunikasi lewat radar yang relatif lebih stabil.

Sedangkan jika saat kapal di bawah permukaan (di air penuh), komunikasi melewati sonar (ada mekanisme bergetar) frekuensi yang dirambatkan melalui air.  
 
Baca: Pemerintah Diminta Prioritaskan Agenda Modernisasi Alutsista TNI
 
"Kalau media komunikasi lewat air maka kualitas komunikasi tergantung dari karakter air. Misalkan arusnya tinggi, maka media komunikasi akan terbawa mengikuti arus air. Belum lagi parameter media komunikasi yang lain," bebernya.
 
Sementara terkait ditemukannya ceceran minyak, lanjut Wisnu, bisa jadi merupakan minyak dari KRI Nanggala-402. Dalam kapal selam, kata dia, desain konstruksi ada yang bernama tangki pemberat (ballast tank). 
 
Untuk kapal selam yang didesain tahun 1980-an, maka kedalaman yang memungkinkan adalah 380 meter. Tapi sekarang kemungkin itu hanya 300 meter.
 
"Jika dipaksa lebih dari itu, tangki pemberatnya ini seperti diremas karena ada gaya hidrostatik dari air yang meremas kapal selam. Kalau sampai ada oli dan cairan minyak di permukaan air ini indikasi tangki pemberatnya rusak," ujarnya.
 
 

Wisnu membeberkan, jika sudah 300 meter strukturnya akan mulai berbunyi dan runtuh, sehingga tangki akan rusak semua dan minyak keluar. Maka itu, kata dia, semua penyebab harus diidentifikasi, apakah kesalahan sistem, mesin atau pengemudi.
 
"Jika kesalahan bisa diidentifikasi nantinya bisa menetralisir masalah. Tetapi selama KRI Nanggala-402 tidak bisa kontak, maka tidak bisa menetralisir masalah," jelasnya.
 
Menurut Wisnu, jika mengacu pada kecelakaan kapal asing Kurf yang tenggelam di Rusia hingga dua bulan baru bisa ditangani. Kapal selam itu, kata dia, mengalami kecelakaan nuklirnya meledak.
 
Baca: Jokowi: Kerahkan Seluruh Kekuatan untuk Cari KRI Nanggala 402
 
"Sementara di Indonesia ini kasus yang pertama, saya pikir ini menjadi refleksi pemerintah. Menilai diri sendiri apa yang kurang dari (alutsista) Indonesia," terangnya.
 
Wisnu menduga kemungkinan pertama perihal prosedur operasi. Kalau berangkat tidak bagus, berarti prosedur operasi belum lengkap.
 
"Saat ini harapannya tim angkatan laut semaksimal mungkin bagaimana dengan cepat bisa menyelamatkan KRI Nanggala-402," ujarnya.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(LDS)
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All


TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

>