Terumbu Karang. Foto : MI.
Terumbu Karang. Foto : MI.

Konservasi Terumbu Karang Berhasil, Nelayan Bangkalan Tak Lagi Sulit Mencari Ikan

Whisnu Mardiansyah • 14 Desember 2021 22:57
Bangkalan: Setelah sekitar tujuh tahun melakukan penanaman kembali pohon mangrove, cemara laut, hingga konservasi terumbu karang yang dimulai pada 2017, masyarakat nelayan di pesisir Desa Labuhan, Kecamatan Sepulu, Kabupaten Bangkalan kini menuai hasil. Hasil tangkapan ikan para nelayan meningkat.
 
Kubah beton berongga sebagai media transplantasi terumbu karang saat ini menjadi rumah-rumah ikan. Kawasan pesisir di Labuhan saat ini juga aman dari abrasi, melalui kegiatan konservasi mangrove dan Terumbu Karang.  
 
Jauh sebelumnya, kerusakan terumbu karang menjadikan masyarakat nelayan kesulitan untuk mendapatkan ikan. Populasi ikan-ikan bernilai ekonomis bagi para nelayan lokasinya menyebar dan sulit ditebak.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Dulu zona ikan seperti cumi masih liar, artinya masyarakat nelayan tidak mengetahui titik-titiknya. Karena posisi ikan cumi menyebar dan tidak terpusat di satu titik,” ungkap Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), Moh Sahril, Selasa, 14 Desember 2021.
 
Sahril menjelaskan, Taman Wisata Laut Konservasi Terumbu Karang kini menjadi favorit siswa hingga mahasiswa melakukan penelitian untuk kebutuhan makalah, skripsi, hingga sebagai wahana camping ground.
 
Baca: Kapal Kandas Merusak Terumbu Karang di Teluk Doreri Papua
 
“PHE WMO membawa kami untuk studi banding ke berbagai lokasi. Kini kesadaran masyarakat sudah 100 persen untuk menjaga kawasan ini. Dulu mangrove ditebangi untuk kayu bakar,” ujarnya.
 
Upaya pemulihan, perlindungan, dan pelestarian terhadap populasi terumbu karang di pesisir Desa Labuhan Kecamatan Sepulu Bangkalan berawal dari pengamatan pihak Pertamina Hulu Energi West Madura Offshore (PHE WMO) pada Februari 2016.
 
Sebagian koloni karang di perairan pesisir Desa Labuhan mengalami pemutihan atau bleaching. Kondisi terumbu karang di pesisir Bangkalan utara itu diperkirakan berada dalam kategori buruk.
 
PHE WMO lantas melakukan pemulihan dengan melakukan transplantasi karang yang dilakukan mulai 2017 dan 2019 di area seluas delapan hektare. Dengan harapan, mampu mempercepat regenerasi pertumbuhan terumbu karang yang semakin terdegradasi.
 
Manager WMO Field Sapto Agus Sudarmanto menyatakan, transplantasi dimulai melalui penanaman empat jenis terumbu dengan 480 fragmen atau bibit karang. Dampak saat ini adalah terjadi peningkatan spesies ikan dari delapan spesies menjadi 36 spesies ikan.
 
“Karena pertumbuhan terumbu karang sangat bagus dan semakin besar, ditambah modul beton berongga yang menjadi rumah ikan. Survival rate-nya naik sampai di angka 97 persen, sedangkan tingkat pertumbuhan nya bisa mencapai 19-22 centimeter per tahun,” ungkap Sapto Agus Sudarmanto.
 
PHE WMO menggandeng Yayasan Sosial Investment Indonesia untuk mengukur pendapatan masyarakat melalui Social Return of Investment (SRoI) dan mengetahui sejauh mana hasil pemberdayaan kawasan pesisir dan pelestarian lingkungan.
 
 
(WHS)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif