Surabaya: Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur diminta memenuhi janji memberikan insentif khusus bagi perawat yang merawat pasien covid-19. Baru 20 persen insentif yang dibayarkan dari yang dijanjikan.
"Sementara lainnya belum semuanya," kata Ketua Dewan Pengurus Wilayah Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jatim, Nursalam, dikonfirmasi, Rabu, 24 Juni 2020.
Nursalam menyayangkan, janji pemerintah masih jauh dari harapan. Ia mendesak pemerintah memperhatikan tim medis yang menangani covid-19. Apalagi, banyak dari perawat dan dokter gugur akibat terpapar covid-19.
Pihaknya pun menuntut agar kebutuhan perawat diperhatikan, mulai dari jam istirahat dan rasio perawatan pasiennya. Juga pemenuhan nutrisi hingga ketersediaan alat pelindung diri (APD) memadai.
"Kalau enggak bisa berguguran semua perawat," ujar Nursalam.
Baca: Tempat Rekreasi di Surabaya Diizinkan Kembali Operasional
Nursalam mengimbau, pihak rumah sakit atau pemerintah daerah memeriksa secara massif dan berkala terhadap para perawat. Yakni dengan melakukan tes swab PCR rutin, setiap sepekan hingga 10 hari.
"Berikutnya kita minta perhatikan stigma, jangan sampai distigma di masyarakat. Misalnya perawat honorer karena positif (Covid-19) dilepas, termasuk di masyarakat gak diterima," kata Nursalam.
Total perawat di Jatim yang terpapar covid-19 sebanyak 124 orang, dan sembilan di antaranya meninggal. Perawat di Surabaya paling banyak terpapar korona, yakni 49 orang, dengan lima orang meninggal.
Kemudian disusul Kabupaten Sidoarjo yakni sembilan perawat, Tulungagung tujuh perawat, Probolinggo dan Jombang masing-masing empat perawat. Kemudian Madiun, Malang, Banyuwangi, Sumenep, masing-masing dua perawat, dan Kediri ada satu perawat.
Surabaya: Pemerintah Provinsi (Pemprov) Jawa Timur diminta memenuhi janji memberikan insentif khusus bagi perawat yang merawat pasien covid-19. Baru 20 persen insentif yang dibayarkan dari yang dijanjikan.
"Sementara lainnya belum semuanya," kata Ketua Dewan Pengurus Wilayah Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Jatim, Nursalam, dikonfirmasi, Rabu, 24 Juni 2020.
Nursalam menyayangkan, janji pemerintah masih jauh dari harapan. Ia mendesak pemerintah memperhatikan tim medis yang menangani covid-19. Apalagi, banyak dari perawat dan dokter gugur akibat terpapar covid-19.
Pihaknya pun menuntut agar kebutuhan perawat diperhatikan, mulai dari jam istirahat dan rasio perawatan pasiennya. Juga pemenuhan nutrisi hingga ketersediaan alat pelindung diri (APD) memadai.
"Kalau enggak bisa berguguran semua perawat," ujar Nursalam.
Baca: Tempat Rekreasi di Surabaya Diizinkan Kembali Operasional
Nursalam mengimbau, pihak rumah sakit atau pemerintah daerah memeriksa secara massif dan berkala terhadap para perawat. Yakni dengan melakukan tes swab PCR rutin, setiap sepekan hingga 10 hari.
"Berikutnya kita minta perhatikan stigma, jangan sampai distigma di masyarakat. Misalnya perawat honorer karena positif (Covid-19) dilepas, termasuk di masyarakat gak diterima," kata Nursalam.
Total perawat di Jatim yang terpapar covid-19 sebanyak 124 orang, dan sembilan di antaranya meninggal. Perawat di Surabaya paling banyak terpapar korona, yakni 49 orang, dengan lima orang meninggal.
Kemudian disusul Kabupaten Sidoarjo yakni sembilan perawat, Tulungagung tujuh perawat, Probolinggo dan Jombang masing-masing empat perawat. Kemudian Madiun, Malang, Banyuwangi, Sumenep, masing-masing dua perawat, dan Kediri ada satu perawat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(LDS)