Miniatur dari sampah botol plastik bekas. Foto: Medcom.id/Daviq Umar Al Faruq
Miniatur dari sampah botol plastik bekas. Foto: Medcom.id/Daviq Umar Al Faruq

Daur Ulang Botol Plastik Beromzet Jutaan Rupiah

Nasional karya seni pengolahan limbah
Daviq Umar Al Faruq • 28 Oktober 2019 22:55
Malang: Muhammad Taufiq Shaleh Saguanto, 40, adalah seorang pengusaha daur ulang sampah botol plastik menjadi produk bernilai rupiah. Saat awal merintis usahanya, pria asal Malang, Jawa Timur itu, tak jarang menuai kritikan.
 
Tak heran. Pasalnya, pria yang akrab disapa Taufiq Saguanto itu sebelumnya lebih dikenal sebagai pengusaha konveksi dan toko perlengkapan militer 'Saguanto' yang namanya cukup tersohor.
 
"Bahkan, saya pernah dikatain orang gila karena daur ulang sampah botol plastik," katanya saat ditemui Medcom.id, Senin 28 Oktober 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun segala kritikan tersebut tak pernah didengar oleh Taufiq. Lewat keprihatinannya dengan permasalahan sampah yang ada, dia pun mencoba mengkreasikan botol plastik bekas menjadi produk bernilai rupiah.
 
Bermodal tak sampai Rp300 ribu, kini Taufiq bisa mendapatkan omzet hingga jutaan rupiah. Dia pun kemudian mendirikan perusahaan home industry diberi nama Hotbottles Recycle Company.
 
Taufiq hanya menggunakan modalnya untuk membeli gergaji, gunting dan lem tembak. Sedangkan bahannya yakni botol plastik bekas yang biasa dia dapat dari hasil memulung.
 
"Rekor saya pernah dalam sebulan mendapat pendapatan sampai Rp30 juta," ungkap bapak tiga anak itu.
 
Daur Ulang Botol Plastik Beromzet Jutaan Rupiah
 
Lewat botol plastik bekas, Taufiq bisa menciptakan berbagai macam miniatur. Mulai dari miniatur satwa, robot, superhero, alat transportasi, bunga hias, bonsai hingga tulisan kaligrafi.
 
Untuk miniatur ukuran 6R, biasanya dibanderol dengan harga Rp50-70 ribu. Sedangkan, untuk miniatur ukuran 10R dikenai harga sebesar Rp100 ribu.
 
"Saya juga buka pesanan custom. Biasanya pelanggan pesan replika motor Harley," kisah lulusan S1 Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini.
 
Miniatur dari botol plastik bekas karya Taufiq ini tak hanya laku di dalam negeri saja. Pembelinya pun tak sedikit yang berasal dari luar negeri. Mulai dari Australia, Kanada, Kongo, New Zealand, Jepang, dan Rusia.
 
"Karya pertama saya yang dibeli itu miniatur kereta api klasik, seharga Rp400 ribu tahun 2016. Dari situ saya mulai serius sampai akhirnya bisa kirim ke luar negeri," ungkapnya.
 
Ada satu kisah yang tak bisa dilupakan oleh Taufiq. Saat itu dia tengah memberikan materi seminar daur ulang sampah di sebuah kampus di Yogyakarta. Selama memberikan materi, dia juga mempraktekkan langsung cara membuat miniatur dari botol plastik bekas.
 
"Saat itu saya buat miniatur ukuran 6R selama 10 menit. Lalu saya lelang ke peserta seminar, saya buka dari harga Rp5 ribu dan kelipatannya. Ternyata ada yang nawar sampai Rp2 juta," terangnya.
 

 

 

(ALB)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif