Miniatur dari sampah botol plastik bekas. Foto: Medcom.id/Daviq Umar Al Faruq
Miniatur dari sampah botol plastik bekas. Foto: Medcom.id/Daviq Umar Al Faruq

Botol Plastik Jadi Karya Bernilai Rupiah

Nasional karya seni pengolahan limbah
Daviq Umar Al Faruq • 28 Oktober 2019 20:15
Malang: Muhammad Taufiq Shaleh Saguanto, 40, membuktikan bahwa sampah plastik tak sekadar limbah. Lewat tangan pria asal Malang, Jawa Timur, botol plastik bekas disulap menjadi karya dan menghasilkan uang.
 
Pria yang akrab disapa Taufiq Saguanto menyadari sampah botol plastik bisa menjadi produk bernilai ekonomi pada Januari 2016. Dia menyadari botol plastik memiliki bentuk unik dan bisa dirangkai menjadi berbagai macam miniatur.
 
"Bentuk botol itu ada yang bulat, kotak, persegi dan lain-lain. Ibarat nada do-re-mi-fa-so-la-si-do bisa jadi ribuan lagu, berarti berbagai macam bentuk botol pun bisa jadi banyak miniatur," katanya saat ditemui Medcom.id, Senin 28 Oktober 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pria lulusan S1 Manajemen Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) ini sebelumnya tak memiliki kemampuan khusus dalam merangkai miniatur dari botol plastik bekas. Tapi hal itu tak menyurutkan langkahnya untuk terus belajar.
 
"Ya mengalir saja, begitu tahu caranya ya mudah. Kan bentuk itu sudah ada, contohnya motor. Kita tinggal merangkai dari botol plastik, bukan membuat bentuk baru," tuturnya.
 
Miniatur pertama yang berhasil dibuat Taufiq adalah miniatur hewan kuda. Miniatur setinggi 50 sentimeter itu dibuat dari hanger bekas, sendok bekas, mainan bekas dan botol bekas. Miniatur dibuatnya selama berhari-hari.
 
"Dulu masih belum nemu cara yang efektif. Untuk satu miniatur ukuran 10x20 sentimeter bikinnya bisa ber jam-jam. Karena sekarang terus dikembangkan, 10 menit pun jadi. Sekarang saya pakai 90 persen dari botol plastik bekas," ujarnya.
 
Karya pertama milik Taufiq yang mampu menghasilkan uang adalah miniatur kereta api klasik. Saat itu, untuk satu miniatur bisa mendapat uang Rp400 ribu. Hasil itu didapatnya tanpa modal karena hanya menggunakan botol bekas.
 
"Awalnya saya iseng upload di Instagram. Saya pasang harga Rp500 ribu lalu ada yang nawar Rp400 ribu. Ya saya kasihkan," kisahnya.
 
Sadar akan potensi bisnis di dalamnya, Taufiq mulai serius menekuni bidang daur ulang sampah botol plastik. Dia kemudian mendirikan industri rumahan bernama Hotbottles Recycle Company.
 
Nama Hotbottles dipilih karena mirip dengan merek mainan mobil berbahan metal (die-cast), Hot Wheels. Taufiq mengaku sengaja memilih nama itu agar mudah diingat oleh masyarakat.
 
"Untuk membuat miniatur dari botol plastik bekas itu butuh tiga alat, yaitu gergaji, gunting dan lem tembak. Ada proses panas dari lem yang ditembakkan ke botol jadi saya pakai nama Hotbottles," terangnya.
 
Untuk mendapatkan botol plastik bekas, Taufiq tak malu untuk memulung sampah botol plastik.
 
"Saat mengantar anak saya sekolah, pulangnya saya mencari botol bekas di depan Indomaret. Hampir setiap hari, dapatnya 3-4 biji. Sekarang setiap saya nemu botol di jalan pasti saya ambil," bebernya.
 
Lewat botol plastik bekas itu, berbagai miniatur bisa dibuat oleh Taufiq. Mulai dari miniatur satwa, robot, superhero, alat transportasi, bunga hias, bonsai hingga tulisan kaligrafi.
 
"Sekarang saya sedang ada proyek miniatur robot setinggi lima meter. Rangka nya menggunakan besi, tapi luar nya pakai botol. Ratusan botol yang saya butuhkan," ungkapnya.

 

(LDS)

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif