Sidang kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat Paniai di Pengadilan Negeri Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu, 21 September 2022. Medcom.id/Muhammad Syawaluddin.
Sidang kasus pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat Paniai di Pengadilan Negeri Makassar, Sulawesi Selatan, Rabu, 21 September 2022. Medcom.id/Muhammad Syawaluddin.

4 Polisi Bersaksi di Sidang Pelanggaran HAM Peristiwa Paniai

Media Indonesia • 28 September 2022 16:41
Makassar: Sidang lanjutan perkara pelanggaran HAM berat Paniai, Papua Barat dengan terdakwa
Mayor Infantri (Purn) Isak Sattu, kembali digelar di PN Makassar Kelas IA Khusus, Rabu, 28 September 2022. Sidang beragendakan mendengarkan keterangan saksi yang diajukan jaksa penuntut umum (JPU) sebanyak empat orang, dari 12 orang yang harusnya dihadirkan.
 
Menurut Jaksa Erryl Prima Putra Agoes, dari 12 saksi yang mereka panggil tersebut, terdiri dari lima warga sipil dan tujuh anggota Polri. Hanya saja saksi dari warga tidak ada yang hadir, sementara dari Polri hanya emat yang hadir, yaitu Andy Richo Amir, Abner Onesimus Windesi, Riddo Bagary, dan Haile ST Wambarauw.
 
Sidang yang dipimpin Hakim Ketua Sutisna Sawati itu, baru mulai sidang sekitar pukul 11.00 Wita di Ruang Prof Bagir Manan. Selama itu, baru dua saksi yang dimintai keterangan yaitu Andy Richo Amir, Abner Onesimus Windesi. Dan keduanya selaku sopir Assiten I Pemkab Paniai dan Abner adalah sopir Wakil Kepala Polres Paniai.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Saksi dimintai keterangan satu per satu, dan saksi lain diminta berada di tempat khusus agar saksi tidak mendengar keterangan saksi lainnya. Saksi Abner lebih banyak tidak tahu saat kejadian karena dia hanya sopir yang mengaku mengantar dari lokasi kejadian saat malam hari
di Pondok Natal, dan saat kejadian 8 Desember 2014 mengantar Wakapolsek ke Polsek Paniai, yang lokasinya tidak jauh dari 1705-02 Enarotali Paniai.
 
Baca: Sidang Pelanggaran HAM Paniai Dinilai Hanya Gimik

Berbeda dengan Richo yang saat kejadian memang ada di lokasi. Menurutnya, Senin, 8 Desember 2014 saat berada di halaman Koramil Paniai, dia memanaskan mobil dinas yang dikemudikannya, karena memang sudah diparkir bertahun-tahun di parkir di sana. Dan saat itu datang sekitar 100 orang berunjuk rasa menuntut tanggung jawab kejadian sehari sebelumnya Minggu malam, 7 Desember 2014.
 
Saksi Richo menjelaskan saat memanaskan mobil sebelum apel pagi, sekitar pukul 8 pagi, ada warga yang menggelar tarian perang penuh lumpur berteriak minta tentara bertanggung jawab atas kejadian malam hari.
 
Lalu mereka mencoba meringsek masuk ke kantor Koramil, tapi langsung ditutup saat melihat massa datang. Massa pun ada yang memanjat pagar besi. Lalu anggota TNI yang ada dalam kantor Koramil meminta petunjuk dari terdakwa yang saat itu bertindak sebagai pabung (Perwira Penghubung), karena Koramil tidak di lokasi.
 
"Saya pun melihat pabung mencoba menghubungi seseorang dan memberi tahu anggotanya jangan melakukan penembakan sebelum ada instruksi, saya minta petunjuk dulu dari Dandim. Tapi anggota mengambil senjata laras panjang. Lalu di luar anggota TNI ini sempat melakukan tembakan peringatan ke atas. Hanya saja dari jarak 2 meter, anggota dari provos TNI bernama
Gatot menembak secara datar dan mengenai pengunjuk rasa yang di pagar dan langsung terjatuh. Karena kejadian itu, massa pun mundur, tapi kemudian ada TNI yang mengejar," jelas Richo.
 
Setelah itu, Richo melihat ada TNI memburu massa lalu ada satu orang yang kebetulan saya berdekatan dengannya ikut berjalan keluar karena ingin ke Mapolsek yang lokasinya hanya terpisah antara kantor distrik dengan kantor Koramil.
 
"Saat itu saya melihat Pak Jusman (TNI) karena tidak bawa senapan, jadi dia mengeluarkan sangkurnya dan menikam satu orang warga dari arah samping yang masih tertinggal di lapangan. Dan orang itu langsung meninggal dunia," lanjut Richo.
 
Dalam keteranganya juga, Richo menyebut dia hanya melihat tiga korban yang dipastikan meninggal saat kejadian itu. Dia juga mendengar banyak tembakan, hanya saja tidak bisa memastikan apakah tembakan-tembakan yang terjadi itu hanya dilakukan tentara saja atau juga dari instansi lain.
 
Hingga saat ini, sidang yang dipimpin Hakim Sutisna Sawati masih mendengar keterangan saksi ketiga dari empat saksi yang hadir. Saksi ke tiga yaitu Riddo Bagaray, yang saat itu menjabat sebagai Danton Dalmas Polres Paniai. Dan setelahnya masih dilanjutkan keterangan saksi Haile
ST Wambrauw.
 
(WHS)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif