Ilustrasi. Medcom.id
Ilustrasi. Medcom.id

Gunungkidul Siaga Darurat Kekeringan

Nasional kekeringan krisis air bersih
Ahmad Mustaqim • 28 Juni 2020 15:06
Yogyakarta: Pemerintah Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), menetapkan siaga darurat kekeringan. Kondisi peralihan musim hujan ke kemarau telah terjadi sejak awal Juni 2020.
 
"Siaga darurat kekeringan, SK (surat keputusan) sudah ditandatangani bupati pada Juni ini. Artinya ke depan sudah pasti akan ada kekeringan," kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul, Edi Basuki dihubungi, Minggu, 28 Juni 2020.
 
Edi meminta pemerintah desa melakukan pemetaan kawasan kekurangan air. Pemetaan ini akan jadi data penyaluran bantuan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dia menilai, pemerintah desa bisa memetakan wilayah kekeringan disertai dengan sarana penampungan air hujan (PAH). Selain itu, pemerintah desa juga diminta menyiapkan akses jalan yang sempat ditutup akibat pandemi virus korona (covid-19).
 
"Selama ini banyak jalan ditutup portal permanen. Kita tak bisa menentukan (wilayah kekeringan), tapi dari bawah menyiapkan," ujar Edi.
 
Dia mengungkap, dengan dibukanya portal maka kebutuhan air untuk warga bisa terpenuhi. Mengingat, kebutuhan air untuk mencuci tangan saat penyebaran covid-19 belum usai, sangat dibutuhkan.
 
Baca:Sukabumi Waspada Krisis Air Bersih dan Karhutla
 
Edi mengaku sudah berkoordinasi dengan berbagai pihak membahas hal itu pada Mei lalu. Mulai dari PDAM hingga pemerintah kecamatan.
 
"Kami berharap camat berkoordinasi dengan kades (kepala desa) untuk membuat daftar wilayah mana yang nanti kekurangan air. Kita akan cek antara data PDAM dan data kita," ujarnya.
 
Di tingkat kecamatan, ada dua yang membuat peta wilayah kekeringan. Dua kecamatan itu yakni Saptosari dan Semanu. Kecamatan Semanu telah meminta dropping air delapan tangki, sementara Kecamatan Samanu belum mengirim permintaan.
 
Edi menjelaskan, pemerintah menganggarkan Rp740 juta untuk kebutuhan dropping air. Nilai ini lebih besar dibanding 2019 lalu sekitar Rp500 juta.
 
"Beberapa kecamatan juga sudah ada anggaran sendiri untuk dropping, seperti Kecamatan Girisubo, Rongkop, Tepus, Tanjungsari, Paliyan, Panggang, Purwosari, Patuk, Gedangsari, dan Ponjong. Kami akan skala prioritas dalam dropping air," jelasnya.
 
(LDS)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif