Tangerang: SDN 2 Bambu Apus, Kecamatan Pamulang, Tangerang Selatan, membenarkan adanya aktivitas pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah secara terbatas, bagi siswa yang tidak memiliki gadget. Padahal, saat ini Pemkot Tangsel belum mengizinkan PTM digelar.
"Belum ada pembelajaran tatap muka, kita hanya daring dan luring. Daring dengan zoom itu terbatas, ada anak yang tidak bisa dan anak itu belajar luar jaringan dengan penugasan, anak diberikan tugas," terang Kepala SDN 2 Bambu Apus,Tangerang Selatan, Nunung, ditemui Jumat 3 September 2021.
Dirinya juga mengakui adanya permintaan orang tua siswa memberikan pengayaan materi belajar (les) di sekolah secara terbatas. "Adapun di level 3 ini, dengan psikologis orang tua anaknya yang kesulitan meminta bantuan treatment (les)," aku Nunung.
Adanya persoalan itu, Nunung mengakui guru kelas tersebut, telah meminta izin kepadanya selaku Kepala Sekolah untuk memberikan penanganan khusus ke murid -murid itu, atas permintaan orang tua siswa.
"Gurunya izin ke saya boleh engga menggelar pertemuan terbatas buat anak- anak yang benar- benar sulit dan tidak bisa. Saya izinkan itu seminggu sekali, untuk materi ajar esensi misal matematika. Itu hanya di level 3 ini menyongsong PTM juga. Itu pun hanya 5 siswa," ungkap dia.
Baca: Oknum Guru di Tangsel Nekat Gelar PTM Berkedok Les Berbayar
Ia membantah adanya penetapan biaya les di sekolah tersebut. Apalagi sampai adanya ketentuan harga sebesar Rp5 sampai 10 ribu.
"Pembayaran tidak pernah, guru tidak ada menetapkan sebenarnya siapa yang punya inisiatif biaya itu. Kami sedih sekali guru hanya dihargai 5 ribu sampai 10 ribu," jelas Nunung.
Atas persoalan itu, dia menegaskan tidak akan kembali mengizinkan adanya kelas pengayaan bagi siswa di masa pembelajaran jarak jauh (PJJ) tersebut.
"Dengan adanya pemberitaan ini kami apapun permintaan orang tua kami mengikuti aturan Pemda dalam hal ini dinas pendidikan untuk menggelar PJJ," katanya.
"Itu inisiatif orang tua murid dan diyakini sekolah tidak pernah meworo-woro itu. Kami satgas sekolah sangat mengerti pembelajaran di masa ini sangat hati - hati," ungkap Nunung Kepala SDN2 Bambu Apus.
Oknum guru di sebuah sekolah dasar negeri di Pamulang, Tangerang Selatan nekat menggelar pembelajaran atatp muka (PTM). PTM digelar dengan dalih les berbayar untuk membantu siswa yang kesulitan belajar daring.
"Kedoknya menggelar Les, dilakukan di ruang kelas sekolah tanpa protokol kesehatan dan tidak ada pembatasan jumlah siswa," kata orang tua murid SDN Bambu Apus, berinisial ANP ditemui dikediamannya Kamis 2 September 2021.
Dia menerangkan, alasan dibukanya kelas les di sekolah oleh oknum guru di SD Negeri itu, karena siswa tidak memahami materi pelajaran yang diberikan saat belajar daring.
*Hai Sobat Medcom, terima kasih sudah menjadikan Medcom.id sebagai referensi terbaikmu. Kami ingin lebih mengenali kebutuhanmu. Bantu kami mengisi angket ini yuk https://tinyurl.com/MedcomSurvey2021 dan dapatkan saldo Go-Pay/Ovo @Rp 50 ribu untuk 20 pemberi masukan paling berkesan. Salam hangat.
Tangerang: SDN 2 Bambu Apus, Kecamatan Pamulang, Tangerang Selatan, membenarkan adanya aktivitas pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah secara terbatas, bagi siswa yang tidak memiliki gadget. Padahal, saat ini Pemkot Tangsel belum mengizinkan PTM digelar.
"Belum ada pembelajaran tatap muka, kita hanya daring dan luring. Daring dengan zoom itu terbatas, ada anak yang tidak bisa dan anak itu belajar luar jaringan dengan penugasan, anak diberikan tugas," terang Kepala SDN 2 Bambu Apus,Tangerang Selatan, Nunung, ditemui Jumat 3 September 2021.
Dirinya juga mengakui adanya permintaan orang tua siswa memberikan pengayaan materi belajar (les) di sekolah secara terbatas. "Adapun di level 3 ini, dengan psikologis orang tua anaknya yang kesulitan meminta bantuan
treatment (les)," aku Nunung.
Adanya persoalan itu, Nunung mengakui guru kelas tersebut, telah meminta izin kepadanya selaku Kepala Sekolah untuk memberikan penanganan khusus ke murid -murid itu, atas permintaan orang tua siswa.
"Gurunya izin ke saya boleh engga menggelar pertemuan terbatas buat anak- anak yang benar- benar sulit dan tidak bisa. Saya izinkan itu seminggu sekali, untuk materi ajar esensi misal matematika. Itu hanya di level 3 ini menyongsong PTM juga. Itu pun hanya 5 siswa," ungkap dia.
Baca: Oknum Guru di Tangsel Nekat Gelar PTM Berkedok Les Berbayar
Ia membantah adanya penetapan biaya les di sekolah tersebut. Apalagi sampai adanya ketentuan harga sebesar Rp5 sampai 10 ribu.
"Pembayaran tidak pernah, guru tidak ada menetapkan sebenarnya siapa yang punya inisiatif biaya itu. Kami sedih sekali guru hanya dihargai 5 ribu sampai 10 ribu," jelas Nunung.
Atas persoalan itu, dia menegaskan tidak akan kembali mengizinkan adanya kelas pengayaan bagi siswa di masa pembelajaran jarak jauh (PJJ) tersebut.
"Dengan adanya pemberitaan ini kami apapun permintaan orang tua kami mengikuti aturan Pemda dalam hal ini dinas pendidikan untuk menggelar PJJ," katanya.
"Itu inisiatif orang tua murid dan diyakini sekolah tidak pernah
meworo-woro itu. Kami satgas sekolah sangat mengerti pembelajaran di masa ini sangat hati - hati," ungkap Nunung Kepala SDN2 Bambu Apus.
Oknum guru di sebuah sekolah dasar negeri di Pamulang, Tangerang Selatan nekat menggelar pembelajaran atatp muka (PTM). PTM digelar dengan dalih les berbayar untuk membantu siswa yang kesulitan belajar daring.
"Kedoknya menggelar Les, dilakukan di ruang kelas sekolah tanpa protokol kesehatan dan tidak ada pembatasan jumlah siswa," kata orang tua murid SDN Bambu Apus, berinisial ANP ditemui dikediamannya Kamis 2 September 2021.
Dia menerangkan, alasan dibukanya kelas les di sekolah oleh oknum guru di SD Negeri itu, karena siswa tidak memahami materi pelajaran yang diberikan saat belajar daring.
*Hai Sobat Medcom, terima kasih sudah menjadikan Medcom.id sebagai referensi terbaikmu. Kami ingin lebih mengenali kebutuhanmu. Bantu kami mengisi angket ini yuk https://tinyurl.com/MedcomSurvey2021 dan dapatkan saldo Go-Pay/Ovo @Rp 50 ribu untuk 20 pemberi masukan paling berkesan. Salam hangat.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(WHS)