Desa Wadas yang menjadi lokasi proyek Bendungan Bener (Dok. Medcom.id)
Desa Wadas yang menjadi lokasi proyek Bendungan Bener (Dok. Medcom.id)

Ganjar Bertanggung Jawab atas Insiden Kekerasan di Desa Wadas

Mustholih • 09 Februari 2022 13:23
Semarang: Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mengaku bertanggung jawab atas peristiwa kekerasan yang menimpa sejumlah warga Wadas, Purworejo, yang menolak penambangan. Ganjar meminta maaf kepada warga Wadas yang menjadi korban kekerasan petugas kepolisian setempat.
 
"Yang pertama, saya ingin menyampaikan minta maaf kepada seluruh masyarakat, khususnya masyarakat Purworejo dan maasyarakat Wadas. Karena kejadian kemarin mungkin ada yang merasa betul-betul tidak nyaman, saya minta maaf dan saya bertanggung jawab," kata Ganjar dalam keterangan pers di Purworejo, Jawa Tengah, Selasa, 8 Februari 2022.
 
Ganjar menegaskan sudah berkomunikasi dengan Kepala dan Wakil Kepala Polda Jawa Tengah dalam memantau perkembangan peristiwa di Wadas. Ganjar meminta puluhan warga Wadas yang ditangkap kemarin segera dibebaskan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kami sudah sepakat, masyarakat yang diamankan kemarin, hari ini akan dilepas untuk dipulangkan," jelas Ganjar.
 
Menurut Ganjar, sebelum peristiwa kekerasan itu terjadi Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sudah membuka lebar ruang dialog kepada warga yang masih menolak tambang di Wadas. Namun, warga yang kontra tak merespons.
 
"Beberapa kali kami mengajak Komnas HAM, karena Komnas HAM menjadi institusi netral untuk menjembatani. Kami minta mereka yang setuju dan belum setuju dihadirkan, tapi kemarin saat dilalukan dialog, pihak yang belum setuju tidak hadir," ucap Ganjar.
 
Kapolda Jateng Inspektur Jenderal Ahmad Luthfi mengatakan pada peristiwa penolakan tambang Wadas, sebanyak 64 warga setempat ditangkap. Mereka saat ini berada di Polres Purworejo.
 
Baca: Desa Wadas Trending Twitter, Polisi Lakukan Intimidasi dan Pengepungan Masjid
 
"Hari ini akan kita kembalikan kepada masyarakat agar tidak terjadi ketegangan antara masyarakat yang menerima dan yang tidak," terang Luthfi.
 
Luthfi mengaku memang tidak berniat melakukan penahanan. Dia beralasan hanya mengamankan masyarakat agar tidak terjadi kericuhan.
 
"Karena saat pengukuran terjadi, antara warga yang pro dan kontra bergesekan. Mereka yang kontra dikejar-kejar oleh masyaraka yang menginginkan tanahnya dilakukan pengukuran. Makanya kami amankan ke sini. Hari ini akan kita kembalikan ke masyarakat," tegas Luthfi.
 
(NUR)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif