Ilustrasi - Medcom.id.
Ilustrasi - Medcom.id.

11 Orang Diperiksa Polisi Terkait Fetish Jarik

Nasional pelecehan seksual
Amaluddin • 06 Agustus 2020 13:44
Surabaya: Polda Jawa Timur memeriksa 11 orang terkait kasus fetish jarik berkedok riset yang dilakukan mantan mahasiswa Universitas Airlangga (Unair), Gilang Aprilian Nugraha Pratama. Tiga orang yang diperiksa di antaranya adalah korban.
 
"Berdasarkan laporan sudah ada tiga korban dan delapan saksi yang dimintai keterangan," kata Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Trunoyudo Wisnu Andiko, di Surabaya, Jawa Timur, Kamis, 6 Agustus 2020.
 
Selain memeriksa korban dan saksi, lanjut Truno, kepolisian juga menggeledah kamar indekos milik terlapor yakni Gilang. Penggeledahan dilakukan untuk mencari barang bukti.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Kita juga telah meminta pendapat dari ahli pidana Universitas Airlangga," jelasnya.
 
Atas laporan yang diterima, Gilang terancam pasal berlapis. Yakni, Pasal 27 ayat (4) juncto Pasal 45 ayat (4) UU Nomor 19 Tahun 2019 tentang perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE. Kedua Pasal 29 juncto Pasal 45B UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE, dan ketiga pasal 335 KUHP.
 
Baca:Unair DO Gilang Fetish Jarik
 
Sebelumnya, Ketua Pusat Informasi dan Humas Universitas Airlangga (PIH Unair), Suko Widodo, menyatakan kampus memutuskan untuk mengeluarkan mahasiswanya yang menjadi terduga pelaku pelecehan seksual fetish jarik berkedok riset. Keputusan tersebut diambil agar proses hukum yang ditangani kepolisian bisa berjalan tanpa melibatkan pihak universitas.
 
"Pak Rektor (Unair) memutuskan yang bersangkutan dikeluarkan atau di-drop out (DO) sejak hari ini. Keputusan itu berharap agar persoalan hukum menyangkut yang bersangkutan diharapkan bisa diatasi oleh yang berwenang," ujar Suko.
 
Suko menegaskan, kampus telah melakukan pelacakan berdasarkan laporan yang dikumpulkan help center Unair. Pihak kampus juga telah meminta keterangan dari keluarga terduga pelaku melalui daring.
 
"Keluarga sudah menyatakan permintaan maaf pada Senin yang lalu dan menyerahkan sepenuhnya keputusan itu kepada Universitas Airlangga," ujar Suko.
 
Suko menegaskan, yang bersangkutan melanggar kode etik. Yakni berdasarkan data yang dikumpulkan diketahui perilaku yang bersangkutan tidak mencerminkan sikap mahasiswa Unair.
 
"Maka Unair mengambil tindakan itu dan selanhutnya yang bersangkutan tidak punya sangkut paut dengan universitas," terangnya.
 
Suko mendorong mahasiswa atau siapapun yang merasa menjadi korban, segara melapor ke kepolisian. Selanjutnya, Suko menyerahkan proses hukum terhadap kepolisian.
 
"Kepolisian punya cara dalam menggali informasi persoalan-persoalan tersebut. Kalau kami di wilayah etik di dalam universitas," tukasnya.
 
(LDS)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif