Ilustrasi--Petugas kebersihan mengambil limbah infeksius dari kamar isolasi pasien covid di RSUD Katini Jepara. (Foto: Istimewa)
Ilustrasi--Petugas kebersihan mengambil limbah infeksius dari kamar isolasi pasien covid di RSUD Katini Jepara. (Foto: Istimewa)

Tenaga Medis dan Paramedis di Jepara Diusulkan Mendapat Insentif

Nasional Virus Korona
Rhobi Shani • 15 Mei 2020 13:45
Jepara: Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kartini Jepara, Jawa Tengah, mengusulkan sebanyak 68 petugas medis dan paramedis yang menangani pasien covid-19 mendapatkan insentif. Sepanjang Februari hingga saat ini, RSUD Kartini telah merawat 157 pasien terjangkit covid-19.
 
Direktur RSUD Kartini Jepara, Dwi Susilowati, mengatakan, berdasarkan jumlah kamar isolasi yang disediakan untuk pasien covid-19 ada lima dokter spesialis dan lima dokter umum yang diusulkan menerima insentif. Kemudian sebanyak 40 orang perawat dan bidan juga diusulkan.
 
“Dari laboratorium ada delapan orang, radiologi lima orang, dan tenaga kesehatan lainnya lima orang. Jadi total ada 68 orang yang diusulkan,” ujar Susi, Jumat, 15 Mei 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lebih lanjut, kata Susi, nama-nama yang diusulkan menerima insentif akan diverifikasi oleh Dinas Kesehatan. Saat ini RSUD Kartini tengah menunggu proses verifikasi itu.
 
Baca juga:Rawat Pasien Covid-19, RSUD Kartini Ajukan Klaim Rp435 Juta
 
Wakil Direktur RSUD Kartini, Muh Ali, menambahkan, berdasarkan regulasi yang ada, insentif bagi dokter spesialis dan umum maksimal Rp15 juta. Kemudian insentif bagi perawat dan bidan maksimal Rp7,5 juta. Sementara insentif untuk tenaga kesehatan lainnya sebesar Rp5 juta.
 
“Tapi nanti yang menentukan nominalnya yang memverifikasi, angka maksimalnya tadi. Kami hanya mengusulkan,” jelas Ali.
 
RSUD Kartini juga mengajukan penambahan anggaran kepada pemerintah Kabupaten Jepara sebesar Rp500 juta, untuk membeli rapid test kit. Rencananya, sebanyak 1.000 rapid test kit akan mengakomodasi pemeriksaan covid-19 terhadap petugas medis dan paramedis di RSUD Kartini.
 
“Rapid test supaya tidak terjadi seperti di rumah sakit lain, banyak petugas medis yang tertular karena ketidakjujuran pasien,” pungkasnya.
 

(MEL)

LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif