Ketua Harian Kompolnas Benny Mamoto. Croscheck Medcom.id.
Ketua Harian Kompolnas Benny Mamoto. Croscheck Medcom.id.

Negosiasi Penangkapan Anak Kiai Jombang, Kompolnas: Lakukan Pendekatan Menyentuh

Meilikhah • 07 Juli 2022 11:18
Jakarta: Ketua Harian Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Benny Mamoto menyarankan petugas penjemput MSAT, putra dari Pengasuh Pondok Pesantren Shiddiqiyyah KH Muhammad Mukhtar Mukthi, dilakukan dengan pendekatan menyentuh.
 
Ia menyarankan agar dilakukan negosiasi dengan mempertimbangkan manfaat dan mudarat jika MSAT tidak segera dibawa untuk dilakukan penyidikan atas kasus pencabulan.
 
"Pendekatannya harus kreatif, tidak bisa tunggal langsung ke orang tua (MSAT) tapi pihak lain yang punya pengaruh diminta bantuan untuk komunikasi," ujar Benny dalam Breaking News Metro TV, Kamis, 7 Juli 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia melanjutkan, peran pihak ketiga dalam upaya negosiasi penjemputan MSAT sangat penting. Pasalnya, sampai hari ini keluarga KH Muhammad Mukhtar Mukthi menganggap kasus pencabulan yang melibatkan anaknya merupakan fitnah.
 
Polisi yang melakukan negosiasi, kata dia, bisa meminta bantuan pihak ketiga untuk menjelaskan duduk perkara kasus. Termasuk potensi nama pondok pesantren tercoreng jika keluarga MSAT tak kooperatif.
 
Baca juga: Menghalangi Penjemputan Anak Kiai Jombang, 2 Orang Ditangkap

"Pendekatan-pendekatan seperti ini bisa menyentuh, itu menjadi penting. Penjelasan tentang pembuktian hukum juga harus disampaikan ke orang tua (MSAT)," jelas Benny.
 
Kasus pencabulan oleh MSAT, 42, putra dari Pengasuh Pondok Pesantren Shiddiqiyyah KH Muhammad Mukhtar Mukthi, jadi perhatian publik setelah upaya kepolisian membawa pelaku mendapat hambatan. 
 
MSAT sebelumnya membantah melecehkan santriwati ponpes dan menyatakan dirinya difitnah. MSA dilaporkan ke polisi atas dugaan pencabulan anak di bawah umur pada 29 Oktober 2019.
 
MSA diketahui menjadi tersangka berdasarkan Surat Pemberitahuan Dimulainya Penyidikan (SPDP) bernomor B/175/XI/RES.124/2019/Satreskrim Polres Jombang tertanggal 12 November 2019. Dalam SPDP tersebut, MSA dijerat Pasal 285 atau Pasal 294 ayat 1 dan 2 ke 2e KUHP.
 
Informasi yang dihimpun, dugaan pencabulan itu terjadi saat korban melamar menjadi karyawan klinik rumah sehat ponpes. Praktik asusila berlangsung saat proses interview (calon karyawan) saat terlapor MSAT pimpinannya.

 
(MEL)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif