Pernyataan kontroversial itu disampaikannya dalam sebuah siaran di televisi Turki.
Menurut terjemahan Institut Penelitian Timur Tengah (MEMRI), Sekretaris Jenderal Komite Yerusalem dari Persatuan Cendekiawan Muslim Internasional (IUMS) Mraweh Nassar menyampaikan pernyataannya di Channel 9 Turki, stasiun televisi berbahasa Arab yang memiliki afiliasi dengan kelompok Ikhwanul Muslimin.
Nassar menuduh bahwa Israel kini ingin bersekutu dengan Rusia dan Tiongkok lantaran "Amerika Serikat telah menelantarkan mereka." AS disebutnya menyampaikan kepada Israel, bahwa "proyek (Zionis) Anda gagal, dan akan berakhir, jika tidak tahun ini, berarti tahun depan."
Sebagai akibatnya, Nassar mengatakan "bahkan kaum Yahudi sendiri sekarang meyakini Palestina tidak bisa menjadi negara untuk Yahudi. Jadi, mereka mulai berkata kota suci Yerusalem berada di Ukraina dan bukan di Palestina. Ukraina saat ini kandidat untuk menjadi negara Yahudi di masa depan."
Baca: Bertemu Putin, PM Israel Minta Yahudi Ukraina Diizinkan Keluar
Menteri Keuangan Avigdor Liberman dan mantan perdana menteri Benjamin Netanyahu dituding Nassar termasuk dalam pihak Yahudi tersebut. "Jika rencana ini tidak berhasil, besok mereka mungkin mengatakan (Yerusalem) berada di Belanda."
Baik Liberman maupun Netanyahu tidak pernah menyampaikan pernyataan seperti itu.
"Mungkin salah satu alasan (Yahudi) menginisiasi perang ini adalah untuk mengosongkan Ukraina," kata Nassar, dikutip dari Algemeiner, Minggu, 3 April 2022.
Nassar juga tampaknya menuding negara Yahudi sudah ada di Ukraina. "Seluruh dunia tahu tentang negara Yahudi di Ukraina timur. Saya ingat tadinya ada 43.000 orang Yahudi di sana, tapi sekarang mereka bilang 200.000."
"Itu adalah negara merdeka, dan mereka tidak ingin menyebarkan informasi tentang itu, sehingga mereka tidak akan diminta ke sana daripada datang ke Palestina," klaimnya.
Bersamaan dengan itu, Nassar membantah terjadinya Holocaust di era Perang Dunia II. Ia menyebut justru kaum Yahudi yang melakukannya. (Kaylina Ivani)
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News