Menteri Komunikasi Lebanon George Kordahi. (ANWAR AMRO / AFP)
Menteri Komunikasi Lebanon George Kordahi. (ANWAR AMRO / AFP)

Setelah Arab Saudi dan Bahrain, Kuwait Ikut Usir Diplomat Lebanon

Internasional konflik yaman arab saudi Pemberontak Houthi Lebanon kuwait bahrain Uni Emirat Arab (UEA) Dubes Lebanon Diusir
Willy Haryono • 30 Oktober 2021 20:37
Kuwait City: Kuwait meminta seorang diplomat Lebanon untuk pergi dalam kurun 48 jam ke depan terhitung Sabtu, 30 Oktober 2021. Selain itu, Kuwait juga menarik duta besarnya di Lebanon di hari yang sama.
 
Langkah ini dilakukan setelah Arab Saudi dan Bahrain sama-sama mengusir dubes Lebanon terkait pernyataan kontroversial seorang menteri Beirut.
 
"Kementerian Luar Negeri (Kuwait) memutuskan mengusir charge d'affaires kedutaan besar Lebanon dan menarik dubes di Lebanon," lapor kantor berita KUNA.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Meski pernyataan Kemenlu Kuwait tidak menyebutkan alasan di balik pengusiran dan penarikan, langkah tersebut serupa dengan Arab Saudi, Bahrain, dan juga Uni Emirat Arab (UEA).
 
Kisruh pengusiran ini dipicu pernyataan Menteri Komunikasi Lebanon George Kordahi terkait perang di Yaman. Dalam sebuah wawancara televisi yang direkam sebelum menjadi menteri, Kordahi mengatakan Arab Saudi dan UEA adalah "agresor" dalam konflik Yaman.
 
Tidak hanya itu, Kordahi juga mengatakan pemberontak Houthi di Yaman hanya berusaha "membela diri" dalam perang berkepanjangan yang telah berlangsung sejak akhir 2014.
 
Mencoba meredakan situasi, Perdana Menteri Lebanon Najib Mikati mengatakan bahwa Kordahi mengucapkan hal seputar perang Yaman sebelum ia ditunjuk sebagai menteri. Mikati menegaskan pernyataan Kordahi tidak merefleksikan sikap Pemerintah Lebanon.
 
Ia menambahkan, pernyataan Kordania tidak mendemonstrasikan kebijakan Lebanon terhadap negara-negara Teluk, terutama Arab Saudi.
 
Dalam sebuah pernyataan pada Sabtu ini, mantan PM Lebanon Fouad Siniora, Saad Hariri, dan Tammam Salam, menyerukan pengunduran diri Kordahi.
 
Yaman dilanda kekerasan dan instabilitas sejak 2014, saat Houthi menguasai banyak wilayah di negara tersebut, termasuk ibu kota Sanaa. Koalisi militer Arab Saudi mengintervensi perang Yaman di tahun 2015, berusaha memulihkan kembali pemerintahan resmi pimpinan Presiden Abedrabbo Mansour Hadi.
 
Baca:  Liga Arab Khawatirkan Ketegangan Antara Lebanon dan Negara-Negara Teluk
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif