Logo Operation Barkhane terlihat di salah satu pangkalan militer Prancis di Menaka, Mali, 3 November 2020. (Daphné BENOIT / AFP)
Logo Operation Barkhane terlihat di salah satu pangkalan militer Prancis di Menaka, Mali, 3 November 2020. (Daphné BENOIT / AFP)

Mali Tuduh Prancis Lakukan Aktivitas Mata-Mata Terkait Video Kuburan Massal

Internasional drone prancis konflik mali
Medcom • 27 April 2022 15:53
Bamako: Mali menuduh Prancis telah melakukan aksi mata-mata untuk berupaya merusak reputasi negaranya. Tuduhan itu dilayangkan setelah Prancis menggunakan pesawat tanpa awak (drone) untuk membuktikan dugaan adanya tentara bayaran yang mengubur sejumlah mayat dekat pangkalan militer Mali.
 
Junta Mali mengeklaim drone tersebut terbang secara ilegal di atas pangkalan Gossi pada 20 April, sehari setelah pasukan Prancis mengembalikan wilayah tersebut ke Mali. 
 
Sehari setelahnya, angkatan darat Prancis merilis video yang disebutnya memperlihatkan tentara bayaran Rusia mengubur beberapa jenazah dengan pasir, untuk membuat tuduhan palsu bahwa pasukan Prancis melakukan kejahatan perang. Dua tentara tampak merekam mayat yang sudah terkubur sebagian.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebelumnya, militer Mali pada hari yang sama mengumumkan penyelidikan terhadap penemuan kuburan massal di pangkalan Gossi.
 
Otoritas Mali mengaku menemukan kuburan itu sehari setelah foto-foto dirilis, dan berdasarkan kondisi mayat yang sudah membusuk, dapat dipastikan pelakunya bukan tentara Mali.
 
Prancis dituduh melakukan aktivitas mata-mata dan berupaya menodai reputasi pasukan Mali melalui video yang direkam drone. "Drone tersebut memata-matai pasukan FAMa (Angkatan Bersenjata Mali) kami yang berani," ujar juru bicara pemerintah Abdoulaye Maiga.
 
"Selain aktivitas mata-mata, pasukan Prancis juga bersalah atas subversi melalui publikasi foto-foto palsu untuk menuduh FAMa atas pembunuhan warga sipil, dengan tujuan menodai citra mereka."
 
Bamako mengatakan "pesawat asing, terutama yang dioperasikan oleh pasukan Prancis" diketahui sengaja melanggar wilayah udara Mali lebih dari 50 kali sejak awal tahun.
 
Prancis, bekas pemegang kekuasaan di Mali, tengah menurunkan operasi militer melawan jihad di negara Afrika Barat itu. Operasi militer tersebut telah berlangsung hampir satu dekade.
 
Namun pada Februari lalu, Prancis memutuskan untuk menarik pasukannya setelah berselisih dengan junta militer, terutama karena kedekatannya dengan Kremlin.
 
Prancis dan Amerika Serikat (AS) menuding tentara bayaran perusahaan keamanan, Wagner, dikerahkan di Mali. Wagner sendiri memiliki keterkaitan dengan Kremlin. Junta mengeklaim pendatang dari Rusia hanyalah instruktur militer yang membantu memulihkan tatanan.
 
Tanah luas Mali berada di luar kendali pemerintah akibat pemberontakan jihad, yang dimulai pada 2012 lalu menyebar tiga tahun kemudian ke negara tetangga, Burkina Faso dan Niger.
 
Negara bagian Sahel yang miskin dan tertutup diduduki oleh junta militer sejak kudeta Agustus 2020, yang didorong oleh unjuk rasa terhadap penanganan pemerintah dalam menangani jihadis.
 
Konflik tersebut dikatakan telah mengakibatkan ribuan kematian dari kalangan militer dan warga sipil, serta membuat ratusan ribu orang mengungsi.
 
Junta awalnya berjanji mengembalikan pemerintahan sipil, namun tidak memenuhi janji ke blok Afrika Barat ECOWAS untuk mengadakan Pemilu Februari ini, sehingga menyebabkan dijatuhkannya sanksi regional. (Kaylina Ivani)
 
Baca:  Prancis akan Tarik Lebih dari 2.000 Prajurit dari Sahel Afrika
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif