Presiden Iran Ebrahim Raisi. (Pavel BEDNYAKOV / SPUTNIK / AFP)
Presiden Iran Ebrahim Raisi. (Pavel BEDNYAKOV / SPUTNIK / AFP)

Presiden Iran Tak Pernah Menaruh Harapan pada Dialog Nuklir di Wina

Willy Haryono • 12 Februari 2022 12:12
Teheran: Presiden Iran Ebrahim Raisi menegaskan bahwa Teheran "tidak pernah" menaruh harapan pada dialog di Wina yang bertujuan menghidupkan kembali perjanjian nuklir 2015 atau Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).
 
Iran dan Amerika Serikat (AS) melanjutkan kembali dialok tak langsung di Wina, Austria, pada Selasa kemarin setelah sempat terhenti selama 10 hari. Sejauh ini, para delegasi mengaku belum dapat memperkirakan kapan dialog ini akan mencapai hasil akhir.
 
"Kami menaruh harapan kepada wilayah timur, barat, utara dan selatan dari negara kita, dan tidak pernah mengharapkan apa pun dari Wina dan New York," kata Raisi dalam sebuah pidato di televisi dalam memperingati 43 tahun Revolusi Islam Iran.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Raisi, yang terpilih sebagai presiden dalam pemilihan umum tahun lalu, mengatakan bahwa Iran akan fokus terhadap potensi ekonomi domestik ketimbang mengharapkan dukungan dari luar negeri dan dari dialog nuklir JCPOA di Wina.
 
Rabu kemarin, pemerintahan As di bawah Presiden Joe Biden menekan Iran untuk segera menghidupkan kembali JCPOA. Biden mengatakan, jika perjanjian tidak tercapai dalam beberapa pekan ke depan, maka JCPOA akan mustahil untuk dihidupkan kembali.
 
Satu hari setelahnya, Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov mengatakan bahwa jalan menuju dihidupkannya kembali JCPOA masih cukup jauh.
 
"Kebijakan luar negeri kami berimbang. Melihat ke arah Barat membuat hubungan-hubungan Iran (di level internasional) tidak seimbang. Kami perlu melihat ke semua negara, termasuk para tetangga kami," sebut Raisi.
 
Pada 2018, AS yang masih dipimpin Donald Trump menarik diri secara sepihak dari JCPOA dan kembali menjatuhkan serangkaian sanksi kepada Iran. Teheran pun membalas langkah tersebut dengan mengurangi komitmen terhadap JCPOA, termasuk meningkatkan pengayaan uranium -- salah satu bahan utama senjata nuklir.
 
Senin kemarin, Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan bahwa permintaan Teheran kepada AS atas pencabutan semua sanksi merupakan hal yang tidak dapat dinegosiasikan untuk menghidupkan kembali JCPOA.
 
Baca:  Tiongkok Sebut AS Bertanggung Jawab Penuh atas Perjanjian Nuklir Iran
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif