Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Foto: AFP
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan. Foto: AFP

Erdogan Incar Posisi Dunia Melalui Konflik Armenia-Azerbaijan

Internasional konflik armenia-azerbaijan Recep Tayyip Erdogan
Fajar Nugraha • 07 Oktober 2020 18:08
Ankara: Dukungan kuat Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan untuk Azerbaijan dalam konflik di Nagorno-Karabakh telah membedakan negaranya dari negara-negara besar lainnya. Kondisi ini membuat khawatir sekutu NATO yang menuntut gencatan senjata.
 
Tetapi bagi Erdogan, sikap tegas adalah prioritas strategis dan kebutuhan mahal yang memperkuat strateginya untuk melenturkan kekuatan militer di luar negeri untuk mempertahankan dukungan di dalam negeri.
 
Baca: Rouhani: Konflik Armenia-Azerbaijan Bisa Menjadi Perang Kawasan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Presiden Turki itu menggambarkan dukungan Ankara untuk Azerbaijan sebagai bagian dari pencarian Turki untuk "tempatnya yang layak dalam tatanan dunia".
 
Dia melihat peluang untuk mengubah status quo atas Nagorno-Karabakh, di mana Prancis, Amerika Serikat, dan Rusia selama beberapa dekade memimpin upaya mediasi internasional. Armenia pun mempertahankan kendali atas daerah kantong tersebut meskipun secara internasional diakui sebagai bagian dari Azerbaijan.
 
"Logika Turki di hampir semua sudut peta adalah gangguan. Apa pun yang merusak status quo dianggap baik, karena status quo sebelumnya dianggap berlawanan dengan kepentingannya," sebut pengamat Turki di Robert Bosch Academy, Galip Dalay, seperti dikutip Channel News Asia, Rabu 7 Oktober 2020.
 
"Di Nagorno-Karabakh ada konflik di mana kunci tetap di tangan Armenia. Turki ingin merusak permainan ini bahkan jika tidak bisa sepenuhnya menentukannya, mengingat pengaruh tradisional Rusia di kawasan itu,” ujar Dalay.
 
Sikap Turki -,mengirimkan ancaman implisit ke Armenia dan pesan kehati-hatian ke Rusia, yang memiliki pakta pertahanan dengan Armenia,- mencerminkan kepercayaannya dalam perang drone yang digunakan di Suriah, Libya dan Irak.
 
Drone buatan Turki sekarang menjadi ujung tombak serangan Azeri dan seorang pejabat senior di Ankara mengatakan bahwa Turki menyediakan infrastruktur dan dukungan untuk senjata, meskipun tidak ada pasukan di lapangan.
 
Erdogan juga bertaruh bahwa, terlepas dari perbedaan mereka atas Nagorno-Karabakh, Turki dan Rusia cukup berhasil untuk mencegah konflik yang lebih luas di wilayah tersebut.

Bertahun-tahun diabaikan


Rusia, Amerika Serikat dan Prancis telah memimpin seruan untuk gencatan senjata di Nagorno-Karabakh, tetapi Erdogan mengatakan mereka telah mengabaikan krisis selama tiga dekade terakhir dan seharusnya tidak memimpin perdamaian. Turki mengatakan, perdamaian abadi akan bergantung pada proposal yang dibuat untuk apa yang terjadi setelah permusuhan berakhir.
 
Baca: Azerbaijan Bertekad Pulihkan Integritas Wilayah Nagorno-Karabakh.
 
Sikap Erdogan telah memperburuk perang kata-kata dengan Prancis, yang populasinya termasuk banyak keturunan Armenia, tetapi diterima oleh partai-partai oposisi utama Turki.
 
Keberhasilan militer dan kelenturan otot militer di bagian lain dunia telah membantu Partai AK yang berkuasa, bersekutu dengan kaum nasionalis, mempertahankan keunggulan dalam jajak pendapat meskipun terjadi depresiasi mata uang yang memperburuk kejatuhan ekonomi dari pandemi virus corona.
 
Persetujuan pekerjaan Erdogan naik hampir 5 persen bulan lalu, menurut kelompok penelitian MetroPoll, setelah perselisihan dengan Uni Eropa atas hak teritorial Mediterania.
 
"Semua konflik di luar sana meningkatkan persepsi bahwa Turki adalah negara yang dikepung, benar atau salah," kata Sinan Ulgen, kepala lembaga think tank EDAM yang berbasis di Istanbul.
 
“Pada akhirnya ekonomi yang menentukan kontes politik,” ucap Ulgen.

Kewajiban dan prioritas


Kondisi dua kontraksi ekonomi dalam beberapa tahun telah menghentikan ledakan tahun di bawah Erdogan, dan lembaga pemeringkat Moody mengatakan Turki berisiko mengalami krisis neraca pembayaran setelah penurunan hampir 25 persen dalam lira tahun ini.
 
Ketergantungan Ankara pada impor gas dari Azerbaijan, yang melonjak 23 persen pada paruh pertama tahun 2020, juga menjadi pendorong untuk mengambil posisi tegas di Nagorno-Karabakh.
 
Belanja pertahanan melonjak 16 persen tahun ini menjadi USD7 miliar, atau 5 persen dari keseluruhan anggaran, dan anggaran militer telah melonjak hampir 90 persen dalam satu dekade.
 
Tetapi kampanye lintas batas seperti yang dilakukan oleh Turki di Suriah utara, Irak, dan Libya adalah prioritas bagi Erdogan, kata seorang pejabat Turki kedua.
 
"Baik pandemi maupun kemerosotan anggaran tidak akan menjadi penghalang bagi pengeluaran pertahanan. Ini tidak disukai tetapi wajib. Turki berada dalam persaingan dengan Amerika Serikat dan Rusia. Kami tidak dapat berpikir atau bertindak kecil,” sebut pejabat tersebut.
 
Kehadiran AS yang berkurang di wilayah tersebut telah meninggalkan celah yang ingin diisi oleh Turki dan Rusia, menggunakan diplomasi untuk membantu mengatasi konflik di Provinsi Idlib, Suriah dan di Libya, dua perang proksi yang berlarut-larut di mana mereka berada di sisi yang berlawanan.
 
Ankara membantah tuduhan -,termasuk oleh Rusia,- bahwa mereka telah mengirim tentara bayaran Suriah untuk mendukung Azerbaijan. Namun dari Turki menegaskan, kerja sama yang erat dengan Moskow di banyak bidang berarti tidak ada kekhawatiran terseret ke dalam konflik dengan Rusia.
 
(FJR)



FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif