Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz dikabarkan mengungsi ke gurun. Foto: AFP
Raja Arab Saudi Salman bin Abdulaziz dikabarkan mengungsi ke gurun. Foto: AFP

Raja Salman Sembunyi di Gurun Pasir Selama 482 Hari

Internasional arab saudi raja salman Mohammed Bin Salman
Medcom • 08 Desember 2021 11:38

 
Secara luas diharapkan, pewaris Raja Salman, Putra Mahkota Mohammed (MBS) yang berusia 36 tahun akan naik takhta setelah ayah tutup usia. “Itu akan mulus,” ucap Haykel.
 
The Wall Street Journal (WSJ) melaporkan, seperti ayahnya, MBS diketahui telah menjauh dari keramaian dan hiruk pikuk Riyadh tahun ini, menghabiskan sebagian besar waktunya di istananya di Neom atau kapal pesiarnya yang berlabuh di Laut Merah. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Menurut Reuters, Istana MBS dan Raja Salman di Neom adalah dua dari lima istana yang ditugaskan Pemerintah Arab Saudi untuk keluarga kerajaan pada 2018. Neom juga merupakan kota dagang yang dicanangkan oleh Saudi bersama perusahaan minyak Saudi, Aramco.
 
MBS pun telah menghapus ancaman terhadap aturannya. MBS sudah menjadi penguasa de facto Arab Saudi dan kenyataannya adalah, sedikit yang akan berubah dalam pemerintahan sehari-hari negara itu saat ia menjadi raja.
 
Sejak MBS menjadi Putra Mahkota pada Juni 2017, ia sibuk membentuk kembali Arab Saudi melalui reformasi sektor ekonomi, hiburan, dan pariwisata. Putra mahkota Arab Saudi telah memegang kekuasaan yang cukup besar di masa lalu, namun MBS telah melampaui banyak pendahulunya dalam hal ambisi dan dampak.
 
Namun, salah satu alasan MBS tidak menghadapi penentangan publik terhadap aturannya adalah karena ia menindak mereka. Pada akhir 2017, puluhan bangsawan ditangkap di Hotel Ritz-Carlton di Riyadh sebagai bagian dari kampanye anti-korupsi, dipimpin oleh MBS.
 
Pada 2020, mantan Putra Mahkota Mohammed bin Nayef ditangkap dan ditempatkan di bawah tahanan rumah. Para bangsawan dengan ikatan bin Nayef, seperti Pangeran Faisal bin Abdullah al-Saud dan Putri Basmah binti Saud, telah menghilang dari mata publik selama lebih dari setahun.
 
Pada Agustus 2020, Saad al-Jabri, mantan pejabat senior intelijen Saudi yang dekat dengan bin Nayef menuduh MBS mengirim regu pembunuh ke Kanada dua tahun sebelumnya untuk membunuhnya. MBS pun telah membantah klaim ini.
 
Dua minggu sebelum al-Jabri mengatakan MBS mencoba membunuhnya, sekelompok agen negara Saudi membunuh jurnalis, Jamal Khashoggi di Istanbul. Kemudian, Badan Intelijen Pusat (CIA) menyimpulkan, MBS kemungkinan memerintahkan pembunuhan itu.
 
Sebagai akibat dari pembunuhan Khashoggi, Presiden AS, Joe Biden secara efektif menurunkan pangkat MBS.  Biden mengatakan pada Februari, rekan Biden adalah Raja Salman. 
 
Menurut logika ini, jika MBS menjadi raja, secara diplomatis akan setara dengan presiden AS. Terlepas dari reaksi internasional atas tindakannya, semua tanda menunjukkan, MBS menjadi raja saat Salman meninggal. “Saya tidak memperkirakan adanya perlawanan,” tutur Hakyel. (Nadia Ayu Soraya)
 
(FJR)
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif