42 Tentara Mali tewas dalam pertempuran melawan ISIS di Sahara Barat./AFP
42 Tentara Mali tewas dalam pertempuran melawan ISIS di Sahara Barat./AFP

42 Tentara Mali Tewas dalam Serangan Melawan ISIS di Sahara Barat

Marcheilla Ariesta • 11 Agustus 2022 07:51
Bamako: Sebanyak 42 tentara Mali tewas dalam serangan pada akhir pekan oleh militan. Angka terbaru disampaikan merevisi jumlah tentara yang tewas sebelumnya.
 
Jumlah korban tewas adalah salah satu yang paling banyak dalam pemberontakan Mali selama satu dekade. Pemberontakan telah menyebar dari utara negara itu ke tengah dan selatan dan ke negara tetangga, Burkina Faso dan Niger.
 
Dokumen itu disahkan kepada AFP oleh beberapa pejabat senior militer.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Serangan itu terjadi pada hari Minggu di kota Tessit, di wilayah 'tiga perbatasan' yang bermasalah di mana perbatasan tiga negara bertemu.
 
Pada Senin lalu, tentara mengatakan, 17 tentara dan empat warga sipil tewas. Kerabat para korban, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan bahwa beberapa warga sipil telah terpilih sebagai pejabat.
 
Pernyataan Senin juga mengatakan bahwa tujuh penyerang tewas. "Mereka kemungkinan anggota Islamic State di Sahara Besar (ISGS) dan mendapat dukungan drone dan artileri dan menggunakan bahan peledak dan kendaraan bermuatan bahan peledak," kata pernyataan tersebut, dikutip dari France24, Kamis, 11 Agustus 2022.
 
Baca juga: Pemimpin ISIS Ledakan Diri saat Dikepung di Suriah
 
Terakhir kali angkatan bersenjata Mali mengalami kerugian seperti itu yakni saat menghadapi serangkaian serangan di wilayah yang sama pada akhir 2019 dan awal 2020.
 
Ratusan tentara tewas dalam serangan di hampir puluhan pangkalan. Biasanya serangan dilakukan oleh pejuang dengan sepeda motor.
 
Serangan tersebut mendorong pasukan Mali, Nigerien dan Burkinabe untuk mundur dari pangkalan depan dan bersembunyi di lokasi yang lebih terlindungi.
 
Pada Januari 2020, Prancis dan sekutu Sahelnya menyepakati dorongan melawan ISGS pada pertemuan puncak di Pau, Prancis barat daya. Beberapa pemimpinnya menjadi sasaran dan terbunuh, termasuk pendirinya, Abu Walid Al-Sahraoui, tetapi penduduk setempat mengatakan kelompok itu terus merekrut dan menjalankan operasinya.
 
Tessit merupakan salah satu hotspot di kawasan tiga perbatasan. ISGS berjuang untuk menguasai wilayah strategis yang kaya emas melawan aliansi terkait Al-Qaeda, Kelompok Pendukung untuk Islam dan Muslim (GSIM).
 
Pada Maret 2021, 33 tentara tewas dalam penyergapan yang diklaim ISGS saat unit sedang dirotasi. Sementara pada Februari tahun ini, sekitar 40 warga sipil - yang dicurigai oleh ISGS bersekutu dengan Al-Qaeda - dibantai.
 
Sambungan telepon seluler ke daerah tersebut kerap terputus selama beberapa tahun terakhir dan akses fisik sulit, terutama selama musim hujan pertengahan tahun. Ribuan orang telah meninggalkan Tessit ke kota besar terdekat, Gao, yang terletak sekitar 150 kilometer ke utara.
 
Di seberang Sahel, kampanye pemberontak telah merenggut ribuan nyawa dan memaksa lebih dari dua juta orang meninggalkan rumah mereka. Serangan lintas perbatasan sporadis juga terjadi di Pantai Gading, Togo dan Benin di selatan, memperkuat ketakutan akan dorongan kelompok teror menuju Teluk Guinea.
 
(FJR)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif