Reruntuhan bangunan akibat konflik Hizbullah dengan Israel. (foto: getty images)
Reruntuhan bangunan akibat konflik Hizbullah dengan Israel. (foto: getty images)

Hizbullah Ajukan 5 Syarat Akhiri Konflik dengan Israel, Apa Saja?

Adri Prima • 27 April 2026 19:50
Ringkasnya gini..
  • Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem mengajukan setidaknya lima syarat utama yang harus dipenuhi untuk mengakhiri konflik dengan Israel.
  • Lima poin itu meliputi penghentian serangan di darat, laut, dan udara, penarikan pasukan Israel, pembebasan tahanan, serta pelaksanaan rekonstruksi.
  • Upaya meredakan ketegangan sempat dilakukan melalui gencatan senjata selama 10 hari sejak 17 April, meskipun pelanggaran masih sering terjadi.
Jakarta: Sekretaris Jenderal Hizbullah, Naim Qassem kembali menegaskan penolakannya terhadap negosiasi langsung antara Lebanon dan Israel
 
Qassem menyebut pihaknya menolak keras dialog langsung dengan Israel. Ia menegaskan Hizbullah akan tetap melanjutkan perlawanan defensif dan tidak akan menyerahkan senjata.
 
Qassem turut mengkritik dua putaran pembicaraan langsung antara Lebanon dan Israel yang digelar di Washington beberapa hari lalu dengan mediasi Amerika Serikat (AS). 

Meski begitu, Naim Qassem memaparkan atau mengajukan setidaknya lima syarat utama yang harus dipenuhi untuk mengakhiri konflik yang tengah berlangsung.
 
Adapun lima poin tersebut meliputi penghentian serangan di darat, laut, dan udara, penarikan pasukan Israel dari wilayah yang diduduki, pembebasan tahanan, pemulangan warga ke daerah asal, serta pelaksanaan rekonstruksi. Qassem juga mengkritik pemerintah Lebanon yang dinilai tidak mewakili kepentingan rakyat. "Pemerintahan ini (Lebanon) tidak dapat terus berkuasa sementara mereka mengabaikan hak-hak Lebanon, menyerahkan tanah, dan menghadapi rakyatnya yang menentang," ujar Naim Qassem dilansir Anadolu, Senin, 27 April 2026.
 
Ia juga menyerukan agar pemerintah kembali berpegang pada konsensus nasional sebagaimana tertuang dalam Kesepakatan Taif. Menurutnya, pemerintahan seharusnya mencerminkan kehendak rakyat, bukan kepentingan kelompok tertentu.
 
Konflik antara Israel dan Hizbullah telah menimbulkan dampak besar. Berdasarkan data resmi Lebanon, lebih dari 2.500 orang tewas dan lebih dari 1,6 juta lainnya mengungsi sejak serangan Israel meningkat pada awal Maret.
 
Upaya meredakan ketegangan sempat dilakukan melalui gencatan senjata selama 10 hari yang diumumkan pada 17 April, meskipun pelanggaran masih sering terjadi.
 
Pada Kamis (25/4), Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa Lebanon dan Israel sepakat memperpanjang gencatan senjata selama tiga minggu setelah pembicaraan lanjutan di Washington.
 
Di tengah situasi tersebut, Hizbullah juga melancarkan sejumlah serangan menggunakan pesawat tak berawak yang menargetkan pasukan Israel di wilayah Lebanon selatan dan Israel utara. Serangan itu diklaim sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata oleh pihak Israel.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(PRI)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan