Unjuk rasa mengecam kematian Mahsa Amini berlangsung di New York, AS, 19 November 2022. (Yuki IWAMURA / AFP)
Unjuk rasa mengecam kematian Mahsa Amini berlangsung di New York, AS, 19 November 2022. (Yuki IWAMURA / AFP)

Demo Tak Kunjung Usai, Iran Kaji Ulang Aturan Wajib Memakai Hijab

Willy Haryono • 04 Desember 2022 15:11
Teheran: Pemerintah Iran sedang mengkaji ulang aturan wajib memakai hijab yang sudah diberlakukan di negara tersebut selama berdekade-dekade. Langkah ini diambil di tengah gelombang aksi protes terkait kode berpakaian di Iran yang sudah berlangsung selama lebih dari dua bulan.
 
Unjuk rasa meletus di Iran sejak 16 September menyusul kematian Mahsa Amini, perempuan 22 tahun keturunan Kurdi. Ia meninggal dunia dalam penahanan polisi moral Iran setelah diduga melanggar aturan memakai hijab di ruang publik.
 
Banyak demonstran perempuan di Iran beramai-ramai membakar penutup kepala mereka sebagai bentuk protes atas kematian Mahsa Amini. Banyak juga dari mereka yang meneriakkan slogan anti-pemerintah.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sejak kematian Mahsa Amini, jumlah perempuan Iran yang melepaskan hijabnya semakin bertambah, terutama di ibu kota Teheran bagian utara.
 
"Parlemen dan badan yudisial sedang menangani (isu terkini) dalam menentukan apakah hukum ini perlu diubah," kata Jaksa Agung Iran Mohammad Jafaf Montazeri, seperti dikutip oleh kantor berita AFP, Minggu, 4 Desember 2022.
 
Ia tidak menyebutkan secara spesifik aturan apa yang dapat atau akan diubah oleh parlemen dan badan yudisial -- keduanya didominasi politisi konservatif Iran.
 
"Tim kajian ulang telah bertemu pada Rabu kemarin dengan komisi kultural parlemen, dan kita akan melihat hasilnya dalam satu atau dua pekan lagi," tutur Montazeri.
 
Sabtu kemarin, Presiden Iran Ebrahim Raisi menegaskan bahwa dasar-dasar nilai keislaman serta republik telah mengakar di konstitusi Iran. "Tapi ada beberapa metode dalam mengimplementasikan konstitusi secara fleksibel," ucapnya dalam tayangan di televisi.
 
Memakai hijab menjadi sebuah kewajiban bagi semua perempuan di Iran sejak April 1983, empat tahun setelah terjadinya Revolusi Islam yang menggulingkan monarki yang didukung Amerika Serikat (AS).
 
Hijab telah menjadi isu yang sangat sensitif di Iran, di mana kelompok konservatif berkukuh bahwa pemakaiannya harus diwajibkan. Sementara kelompok reformis di Iran berpendapat bahwa keputusan pemakaian hijab sebaiknya diserahkan kepada masing-masing individu.
 
Pekan ini, seorang jenderal di Korps Garda Revolusioner Iran (IRGC) mengatakan bahwa lebih dari 300 orang telah tewas dalam bentrokan unjuk rasa sejak kematian Mahsa Amini. Ini merupakan kali pertamanya seorang petinggi IRGC mengeluarkan pernyataan di tengah gelombang protes masif di Iran.
 
Baca: Kelompok HAM: 448 Orang Tewas dalam Aksi Kekerasan terhadap Unjuk Rasa di Iran
 
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Medcom.id
 
(WIL)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif