Ilustrasi ledakan nuklir. (Foto: Medcom.id)
Ilustrasi ledakan nuklir. (Foto: Medcom.id)

Perang Nuklir Mungkin Terjadi di Sini, Bukan Korea Utara

Internasional india pakistan konflik kashmir
Arpan Rahman • 11 Maret 2019 08:34
New York: Fokus komunitas global terhadap nuklir dan misil balistik milik Korea Utara menyamarkan fakta bahwa perang nuklir lebih mungkin terjadi antara India dengan Pakistan.
 
Berikut opini Dewan Editorial New York Times terkait isu India dan Pakistan, Maret 2019.
 
Berseteru sejak lama, India dan Pakistan kembali bersitegang atas serangan bom bunuh diri yang terjadi di Kashmir pada 14 Februari. Serangan tersebut menewaskan 40 personel paramiliter India, dan Pakistan dituduh mendukung grup di balik ledakan tersebut: Jaish-e-Mohammad (JeM).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Pakistan membantah keras, dan menawarkan India untuk bersama-sama menginvestigasi serangan tersebut. India menolak dan malah mengerahkan pesawat jet tempur ke wilayah Pakistan untuk menggempur beberapa titik yang diklaim sebagai kamp militan.
 
Merespons tindakan tersebut, Pakistan balas memasuki wilayah India dan menembak jatuh pesawat jet tempur. Pakistan juga menangkap seorang pilot India, namun memulangkannya kembali sebagai "gestur perdamaian."
 
Situasi terkini relatif tenang, namun bukan sebuah solusi permanen. Selama India dan Pakistan menolak menyelesaikan akar masalah mereka, yakni status Kashmir, maka keduanya menghadapi masa depan tak pasti, termasuk perang nuklir.
 
Konflik berikutnya antar India dan Pakistan, yang sangat mungkin terjadi, bisa saja tidak berakhir damai seperti saat ini. Pakistan dinilai tidak pernah serius memberantas sejumlah grup militan yang melancarkan serangan ke India atau Kashmir India.
 
Dalam beberapa hari terakhir, Pakistan mengaku sudah menangkap 44 militan yang melancarkan serangan di Kashmir pada 14 Februari. Salah satu militan itu adalah saudara dari Masood Azhar, kepala JeM. Pakistan juga berencana menyita aset para militan tersebut.
 
Baca:Pakistan Tangkap Puluhan Militan Terkait Bom Kashmir
 
Namun selama ini, Pakistan jarang menindaklanjuti sejumlah janjinya terkait grup militan.
 
Tanpa ada tekanan komunitas internasional, solusi jangka panjang konflik India dan Pakistan kemungkinan tidak akan pernah tercapai, dan ancaman perang nuklir tetap terbuka lebar.
 
Tiongkok adalah salah satu sekutu utama Pakistan. Jika Beijing berhenti memveto langkah memasukkan Masood Azhar ke daftar teroris Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa, maka itu akan menjadi sinyal bagi Pakistan untuk serius memberantas JeM dan grup lainnya.
 
Saat Bill Clinton, George Bush dan Barack Obama secara agresif memastikan konflik India dan Pakistan pada 1999, 2002 dan 2008 berakhir tak terkendali, pemerintahan Amerika Serikat di bawah Donald Trump belum berbuat banyak mengenai isu tersebut. Pemerintahan Trump hanya mengeluarkan pernyataan formal, menyerukan agar kedua negara menahan diri.
 
Sulit melihat Trump berada di posisi mediator konflik, karena dirinya cenderung menentang Pakistan dan condong ke India untuk berbisnis.
 
DK PBB juga perlu terlibat. DK PBB dapat membantu India memperkuat kemampuan melawan terorisme untuk mencegah serangan teror di masa mendatang. DK PBB juga dapat mendorong India untuk mengubah pendekatannya terhadap pihak yang menentang kekuasaan New Delhi di Kashmir.
 
Walau kini India dan Pakistan memutuskan menurunkan ketegangan, PBB harus siap mengintervensi jika keduanya kembali bersitegang di masa mendatang. Tidak ada jaminan India dan Pakistan nantinya bisa menahan diri seperti sekarang.

 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif