PM Inggris Theresa May. (Foto: AFP)
PM Inggris Theresa May. (Foto: AFP)

Petisi Pembatalan Brexit Mendapat 4 Juta Dukungan

Internasional uni eropa brexit
Willy Haryono • 23 Maret 2019 19:08
London: Sebuah petisi di dunia maya yang meminta Artikel 50 dicabut agar Brexit dibatalkan alias Inggris tetap berada di Uni Eropa telah mendapat empat juta dukungan. Petisi tersebut, yang telah dibuat beberapa hari lalu, mencapai empat juta dukungan pada Sabtu 23 Maret 2019, pukul 09.00 pagi waktu Inggris.
 
Didukung puluhan selebritas, petisi pembatalan Brexit mendapat momentum dukungan usai pidato Perdana Menteri Theresa May pada Rabu malam. Tingginya angka dukungan bahkan sempat membuat situs resmi Parlemen Inggris mengalami crash.
 
Jika angkanya mencapai 4,2 juta dukungan, maka pembatalan Brexit akan menjadi petisi terbesar yang pernah dilayangkan ke situs Parlemen Inggris. Petisi terbesar sejauh ini terjadi pada 2016, yakn i mengenai referendum kedua UE.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Petisi tandingan pro-Brexit juga dilayangkan ke situs Parlemen Inggris. Petisi yang menyerukan agar Inggris "meninggalkan UE tanpa perjanjian apapun" telah mendapat 455 ribu dukungan.
 
Meski petisi pembatalan mendapat banyak dukungan, PM May telah berulang kali menegaskan proses Brexit tidak dapat dibatalkan. "Saya tidak meyakini kita harus membatalkan Artikel 50," tegas dia, seperti dilansir dari Business Insider.
 
Dalam keterangan kepada awak media di Brussels pada Kamis kemarin, PM May mengatakan bahwa referenum Brexit pada Juni 2016 adalah "proses demokrasi terbesar dalam sejarah" Inggris.
 
"Dan hasilnya sudah jelas, bahwa kami harus meninggalkan Uni Eropa. Merupakan tugas kami sebagai pemerintah dan parlemen untuk meneruskan suara masyarakat," lanjut dia.
 
Saat ditanya mengenai petisi pembatalan, juru bicara PM May mengatakan bahwa jika Brexit dibatalkan, maka berpotensi memicu "kerusakan parah terhadap kepercayaan publik yang tidak dapat diperbaiki lagi."
 
"PM sudah menegaskan dengan jelas bahwa jika kita gagal meneruskan hasil referendum, maka sistem demokrasi kita akan dianggap gagal, dan hal tersebut tidak dapat diterimanya," sambung dia.
 
Parlemen Inggris telah dua kali menolak perjanjian Brexit yang disepakati PM May dengan UE. PM May telah mengutarakan rencananya untuk meminta UE menunda Brexit, yang tenggat waktunya adalah 29 Maret mendatang. Namun UE baru akan memberikan izin penundaan jika Inggris mampu memperlihatkan rencana yang lebih jelas dan transparan mengenai perjanjian Brexit.
 
Baca:Uni Eropa Enggan Beri Penundaan Brexit kepada Inggris

 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif