Hilangnya Jurnalis Arab Saudi

Klaim Pangeran yang Diasingkan Terkait Hilangnya Khasoggi

Sonya Michaella 19 Oktober 2018 17:40 WIB
arab saudi
Klaim Pangeran yang Diasingkan Terkait Hilangnya Khasoggi
Pangeran Khalid bin Farhan al-Saud. (Foto: DW)
Berlin: Hilangnya jurnalis Arab Saudi Jamal Khashoggi masih menjadi misteri. Ada dugaan bahwa Arab Saudi memang benar membunuh Khashoggi. Dugaan ini pun dibenarkan oleh Pangeran Khalid bin Farhan al-Saud, sepupu dari Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman.

Bahkan, ia menyebut bahwa perintah untuk membunuh Khashoggi datang langsung dari Raja Salman bin Abdulaziz al-Saud. Khashoggi, yang bekerja untuk The Washington Post, memang terkenal kerap mengkritik pemerintahan Arab Saudi saat ini. 

"Saya tahu mental pemimpin Arab Saudi, Raja Salman. Dia menggunakan kekerasan. Sudah banyak yang tahu bahwa para pembangkang pasti akan dibunuh sesuai perintah raja," kata Farhan, dikutip dari Deutsche Welle, Jumat, 19 Oktober 2018.


Baca: Jenderal Arab Saudi Akan Dijadikan Kambing Hitam

Farhan, yang kini tinggal di pengasingan di Jerman, menyebut bahwa tindakan keji seperti itu tidak mungkin tidak diketahui oleh para pemimpin Riyadh. Apalagi, beberapa pelakunya adalah intelijen.

"Saya tidak dapat mengatakan bahwa Raja Salman terlibat langsung. Tetapi saya percaya bahwa keputusan dan pelaksanaan pembunuhan itu pasti diketahui dan disetujui juga oleh Pangeran Salman," tukas dia.

Farhan sendiri merupakan anggota keluarga kerajaan yang diasingkan karena sempat mengkritik pemerintahan dan menganjurkan reformasi. Kini, ia merasa lebih aman dan tenang hidup di Jerman.

Baca: Tersangka Pembunuh Khashoggi Tewas dalam Kecelakaan Mobil

"Saya dianiaya dan diancam terus-menerus ketika tinggal di Riyadh. Di Jerman, saya terus berhubungan dengan polisi. Ada polisi berjaga 24 jam di dekat rumah saya. Saya merasa aman di sini," ucap dia.

Farhan menambahkan, Amerika Serikat dan negara-negara lain yang memiliki hubungan baik dengan Arab Saudi, akan terus mengejar kepentingannya sendiri di balik kasus ini. 

Tetapi, jika Kongres memberlakukan sanksi terhadap Riyadh, Presiden Donald Trump tak mampu menghentikannya.




(FJR)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id