Demonstran rompi kuning berunjuk rasa di depan Katedral Notre Dame di Paris pada Januari 2019. (Foto: AFP / ERIC FEFERBERG)
Demonstran rompi kuning berunjuk rasa di depan Katedral Notre Dame di Paris pada Januari 2019. (Foto: AFP / ERIC FEFERBERG)

Polisi Prancis Tangkap 100 Rompi Kuning di Pekan ke-23

Internasional prancis Emmanuel Macron Kebakaran Notre Dame
Willy Haryono • 21 April 2019 15:00
Paris: Kepolisian Prancis menangkap lebih dari 100 demonstran "Rompi Kuning" yang kembali ke jalanan dan berunjuk rasa di pekan ke-23, Sabtu 20 April 2019. Ini merupakan aksi protes pertama rompi kuning usai terbakarnya Katedral Notre Dame di Paris pada 15 April.
 
Jurnalis kantor berita AFP melaporkan adanya bentrokan antara polisi dengan pengunjuk rasa di Paris pada petang hari, setelah beberapa jam sebelumnya aksi berlangsung relatif damai. Aparat keamanan dilaporkan menggunakan gas air mata dan granat antihuru-hara untuk membubarkan massa.
 
Total ada 126 pengunjuk rasa yang ditahan dalam demonstrasi pekan ke-23, dengan 11 ribu lainnya sempat diperiksa secara seksama oleh aparat keamanan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sebelumnya, Kepolisian Paris telah mengingatkan para rompi kuning untuk tidak berunjuk rasa di dekat Notre Dame.
 
"Tidak boleh ada demonstrasi di area (Notre Dame) dengan mempertimbangkan aspek kerapuhan dari bangunan tersebut," ujar pernyataan resmi Kepolisian Paris.
 
Aksi protes juga dilarang digelar di wilayah Champs-Elysees dan sekitar istana kepresidenan Elysee Palace.
 
Mengenai Notre Dame, Presiden Prancis Emmanuel Macron telah menggelar penggalangan dana untuk biaya restorasi bangunan berusia 850 tahun tersebut. Dua hari usai Notre Dame terbakar, dana sekitar USD400 juta atau setara Rp5 triliun telah dijanjikan sejumlah pihak untuk memperbaiki Notre Dame.
 
Tingginya angka donasi dimanfaatkan rompi kuning untuk menyerang pemerintahan Macron, yang selama ini dinilai lebih berpihak pada kalangan pengusaha, bukan rakyat kecil.
 
"Dengan sekali klik, 200 juta, 100 juta. Ini memperlihatkan ketidakadilan yang selalu kami kecam di negara ini," ucap kepala serikat perdagangan CFG, Philippe Martinez, pada Rabu kemarin.
 
Rompi kuning atau "gilet jaunes" memulai unjuk rasa di Paris dan berbagai kota lainnya di Prancis pada November 2018. Unjuk rasa dipicu rencana pemerintah Prancis menaikkan pajak bahan bakar minyak.
 
Macron menunda rencana penaikan pajak BBM untuk menghentikan demonstrasi rompi kuning. Namun gerakan terus berlanjut dan meluas menjadi penentangan terhadap elitisme dan Macron.
 
Baca:Sekitar Rp5 Triliun Dijanjikan untuk Restorasi Notre Dame
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

MAGHRIB 17:47
DOWNLOAD JADWAL

Untuk Jakarta dan sekitarnya

  • IMSAK04:26
  • SUBUH04:36
  • DZUHUR11:53
  • ASHAR15:14
  • ISYA19:00

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif