Demonstran melakukan pembakaran dalam unjuk rasa di Paris, Prancis, 16 Maret 2019. (Foto: AFP)
Demonstran melakukan pembakaran dalam unjuk rasa di Paris, Prancis, 16 Maret 2019. (Foto: AFP)

Cegah Kekerasan Rompi Kuning, Prancis Kerahkan Militer

Internasional prancis Emmanuel Macron
Willy Haryono • 23 Maret 2019 11:19
Paris: Kepolisian Prancis untuk kali pertama mengerahkan militer untuk membantu kepolisian menjaga unjuk rasa "Rompi Kuning" di Paris dan wilayah lainnya, Sabtu 23 Maret 2019. Pengerahan militer bertujuan mencegah aksi kekerasan seperti yang terjadi dalam demonstrasi pekan lalu.
 
Pemerintahan Presiden Emmanuel Macron menegaskan aparat keamanan akan bertindak tegas jika melihat ada tanda-tanda aksi kekerasan dari pengunjuk rasa.
 
Pengerahan militer memicu kontroversi. Bruno Retailleau, pemimpin kubu oposisi di Senat, mengatakan kepada saluran televisi France 5 bahwa langkah terbaru Macron adalah "kesalahan serius."

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dari kalangan militer, seorang prajurit di unit Sentinelle menginformasikan situs Franceinfo bahwa mereka tidak dilatih untuk mengatasi unjuk rasa.
 
"Orang-orang di Sentinelle adalah prajurit -- kami tidak tahu cara menjaga ketertiban umum," ucap tentara tersebut.
 
Sabtu ini, pemerintah Prancis melarang rompi kuning untuk berunjuk rasa di Champs-Elysees, salah satu area populer di Paris. Pelarangan dilakukan karena para demonstran merusak banyak properti di wilayah tersebut pekan kemarin.
 
Rompi kuning atau "gilet jaunes" memulai unjuk rasa di Paris dan berbagai kota lainnya di Prancis pada November 2018. Unjuk rasa dipicu rencana pemerintah Prancis menaikkan pajak bahan bakar minyak.
 
Macron menunda rencana penaikan pajak BBM untuk menghentikan demonstrasi rompi kuning. Namun gerakan terus berlanjut dan meluas menjadi penentangan terhadap elitisme dan Macron.
 
Dalam unjuk rasa pekan ini, kepolisian Prancis berada di bawah komando baru. Kepala Kepolisian Paris Michel Delpuech telah dicopot pekan kemarin dan digantikan dengan Didier Lallement.
 
Tiga pekan lalu, demonstrasi rompi kuning berjalan relatif tenang. Tidak ada bentrokan signifikan yang terjadi di ibu kota. Polisi hanya mengusir beberapa pengunjuk rasa yang berusaha menggelar aksi mereka di Champs de Mars, sebuah taman besar di pusat kota Paris.
 
Awal Februari, sebuah pengadilan di Prancis membolehkan aparat kepolisian menggunakan peluru karet karena adanya ancaman kekerasan dari pengunjuk rasa. Namun para rompi kuning mengecam penggunaan peluru karet jenis flash-balls, yang dinilai dapat menyebabkan luka parah.
 
Baca:Demo Rompi Kuning Rusuh, Prancis Copot Kepala Polisi Paris
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif