Sebastian Kurz, lengser dari kursi Kanselir Austria setelah kalah dalam mosi tidak percaya. (Foto: AFP).
Sebastian Kurz, lengser dari kursi Kanselir Austria setelah kalah dalam mosi tidak percaya. (Foto: AFP).

Kanselir Austria Digulingkan Melalui Mosi tidak Percaya

Internasional austria
Arpan Rahman • 28 Mei 2019 15:06
Wina: Sebastian Kurz tersingkir sebagai kanselir Austria pada Senin, kurang dari 24 jam setelah partainya meraup kemenangan besar dalam pemilihan umum Eropa.
 
Baca juga: Diterpa Skandal, Seluruh Menteri Partai Sayap Kanan Austria Mundur.
 
Pemerintahan Kurz kehilangan suara kepercayaan di Parlemen Austria sesudah remuknya koalisi dengan Partai Kebebasan sayap kanan (FPO).

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Presiden Alexander Van der Bellen sekarang akan menunjuk pemerintah sementara sampai pemilu dijadwalkan September. Kurz menjadi kanselir Austria pertama pascaperang yang kehilangan kepercayaan, tetapi dia memang tidak lama berkuasa.
 
Partai Rakyat Austria (OVP) yang dipimpinnya akan menjadi favorit kuat pada September, setelah menempati peringkat pertama dengan proyeksi 35 persen dalam Pemilu Eropa, lebih dari 10 persen di atas saingan terdekat mereka.
 
Dipuji sebagai masa depan konservatisme Eropa ketika ia menjadi pemimpin termuda di dunia pada 2017 di usia 31, posisi Kurz selalu rentan setelah mengakhiri koalisinya dengan Partai Kebebasan atas skandal korupsi lebih dari sepekan lalu.
 
Dia berupaya bertahan sebagai kepala pemerintahan minoritas, tetapi bekas mitra koalisinya bergabung dengan Sosial Demokrat sayap kiri (SPO) untuk menjatuhkannya dari kekuasaan.
 
Kurz menuduh lawan-lawannya membuat permainan balas dendam menjelang pemungutan suara, dan memperingatkan: "Pada akhirnya mmasyarakat akan memutuskan".
 
Keputusannya membentuk koalisi dengan Partai Kebebasan pada 2017 secara luas dilihat sebagai model untuk bagaimana menjinakkan hak-hak populis. Tapi koalisi itu berubah beracun ketika sebuah video muncul dari Heinz-Christian Strache, pemimpin Partai Kebebasan, menawarkan kontrak pemerintah kepada seorang wanita yang menyamar sebagai oligarki Rusia dengan imbalan bantuan politik dan keuangan. Strache menyangkal melakukan sesuatu yang ilegal.
 
"Jelas bagi saya bahwa itu berarti akhir dari koalisi," kata Kurz kepada anggota parlemen saat dia membela catatan pemerintahnya, dikutip dari laman Telegraph, Senin 27 Mei 2019.
 
Dia berusaha membentuk kabinet sementara dengan dukungan Presiden van der Bellen, menunjuk teknokrat non-partisan untuk mengisi kementerian yang kosong, tetapi partai-partai lain menolak untuk menerimanya.
 
Bagi Sosial Demokrat, rival terdekat Kurz, perhitungannya adalah apakah akan memungkinkan dia untuk bertarung dalam pemilu September sebagai seorang petahana, atau berisiko membuat marah para pemilih dengan mendepak seorang kanselir populer.
 
Memilih yang terakhir mereka telah memberi tantangan. Setelah penampilan partainya yang kuat dalam pemilu Eropa, Kurz berharap mendapat keuntungan dari perjuangan Partai Kebebasan dan mengambil cukup suara untuk membentuk koalisi dengan partai kecil.
 
Tetapi suara Partai Kebebasan jauh lebih baik dalam pemilu Eropa daripada yang diperkirakan setelah Strache terpaksa mengundurkan diri secara memalukan. Partai itu diproyeksikan menempati urutan ketiga dengan 17 persen, hanya dua persen lebih sedikit ketimbang tahun 2014.
 

(FJR)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif