Mantan Menlu Inggris Boris Johnson. (Foto:
Mantan Menlu Inggris Boris Johnson. (Foto:

Lima Kandidat Calonkan Diri untuk Posisi PM Inggris

Internasional politik inggris brexit
Willy Haryono • 25 Mei 2019 17:15
London: Lima tokoh telah menyatakan niatnya untuk maju sebagai calon perdana menteri Inggris pengganti Theresa May yang akan mengundurkan diri pada 7 Juni mendatang. PM May memilih mundur karena berbagai upayanya untuk menghadirkan perjanjian Brexit tidak kunjung terwujud.
 
Brexit adalah istilah bagi keluarnya Inggris dari keanggotaan Uni Eropa. UE telah memberikan tenggat waktu baru bagi Inggris untuk segera keluar, yakni hingga Oktober mendatang.
 
Dilansir dari laman BBC, Sabtu 25 Mei 2019, kelima tokoh tersebut adalah Menteri Luar Negeri Jeremy Hunt; Menteri Perkembangan Internasional Rory Stewart; Menteri Kesehatan Matt Hancock, mantan Menlu Inggris Boris Johnson; dan mantan Menteri Tenaga Kerja dan Pensiun Esther McVey.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Stewart menegaskan dirinya tidak akan mau berada di bawah Johnson karena sikapnya yang mendukung Brexit tanpa perjanjian (no-deal Brexit). Sementara Hancock menyebut pengganti May harus seorang tokoh yang "sangat jujur dan blak-blakan" demi mendapatkan persetujuan dari Parlemen Inggris mengenai perjanjian Brexit.
 
Menteri Tenaga Kerja dan Pensiun saat ini, Amber Rudd, mengaku tidak akan mencalonkan diri. Ia menilai PM baru Inggris sebaiknya adalah "orang yang lebih antusias terhadap Brexit dibandingkan saya."
 
Saat ditanya hendak memilih siapa, Rudd mengatakan kepada Radio 4 tidak mau condong ke salah satu kandidat. Ia hanya menginginkan sosok yang "dapat mencapai kompromi" terkait Brexit, dan "bersikap realistis mengenai apa yang dapat dicapai."
 
Partai Konservatif memiliki 124 ribu anggota per Maret tahun lalu. Pemimpin terakhir yang dipilih dari kubu Konservatif adalah David Cameron pada 2005. Theresa May kemudian terpilih satu tahun kemudian.
 
Menjelang pengunduran dirinya, PM May mengaku menyesal tidak dapat memberikan Brexit kepada Inggris. Mengutip kata Nicholas Winton, May menyebut 'kompromi bukan kata yang kotor.'
 
Menurut May, Partai Konservatif masih akan terus melayani masyarakat Inggris di tahun-tahun mendatang. Dia menambahkan pentingnya PM mendatang untuk 'membakar ketidakadilan,' sebuah frasa yang digunakan di awal kepemimpinannya.
 
Baca:Dubes Sukma: Hubungan RI dan Inggris akan Tetap Baik
 

(WIL)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif