Stockholm: Swedia meminta Tiongkok untuk segera membebaskan Gui Minhai. Penerbit buku itu ditangkap oleh agen intel Tiongkok, pada Sabtu 20 Januari 2018, saat melakukan perjalanan ke Beijing dengan dua diplomat Eropa.
Sebuah pernyataan dari Menteri Luar Negeri Swedia, Margot Wallstrom, mengatakan: "Kami mengharapkan pembebasan segera warga negara kita bersama, dan agar dia diberi kesempatan bertemu dengan staf diplomatik dan medis Swedia."
Wallstrom bertutur bahwa Stockholm mengambil "pandangan yang sangat serius" tentang penahanan Gui. Insiden terjadi "di tengah misi dukungan konsuler yang sedang berlangsung". Tiongkok mengaku "tidak ada alasan khusus" atas tindakan tersebut.
Duta Besar Uni Eropa untuk Tiongkok, Hans Dietmar Schweisgut, menambahkan bobotnya pada permintaan tersebut. Ia berkata dalam sebuah pernyataan, pada Rabu 24 Januari 2018, bahwa dia memperkirakan Gui akan dibebaskan.
Menlu Swedia juga menolak alasan mitranya di Kemenlu Tiongkok bahwa dua diplomat Swedia yang bepergian dengan Gui ketika dia ditangkap telah melanggar undang-undang yang tidak dipastikan.
Pada Selasa 23 Januari 2018, juru bicara Kemenlu Tiongkok, Hua Chunying, membantah semua prasangka tentang kasus Gui. Diklaimnya bahwa itu bukan masalah diplomatik. Namun mengisyaratkan diplomat Swedia sudah melakukan beberapa tindakan pelanggaran.
Gui, seorang Swedia kelahiran 53 tahun lalu, yang bekerja di sekolah yang mempelajari kehidupan pribadi elit politik Tiongkok, ditahan pada Sabtu pagi. Saat itu dia naik kereta api ke Beijing dari kota timur Ningbo didampingi para diplomat. Menurut putri penjual buku itu, Angela, ayahnya sedang menuju ke ibukota demi pemeriksaan kesehatan di Kedutaan Besar Swedia. Beliau dikhawatiran menderita penyakit neurologis langka.
"Ini sebenarnya tidak seharusnya terjadi," katanya menyoal penahanan, seperti disitir Guardian, Rabu 24 Januari 2018.
Kejadian ini kali kedua hanya dalam waktu dua tahun Gui diringkus oleh agen Tiongkok. Pada Oktober 2015, dia lenyap dari rumah liburannya di Thailand, kemudian muncul kembali di penjara Tiongkok. Para pendukungnya menuduh Beijing menculiknya, mencela pengakuan paksa televisi. Gui muncul dekat pembebasannya musim gugur lalu di tengah laporan bahwa dia 'setengah bebas' dan tinggal di bawah pengawasan, selama beberapa waktu di Ningbo.
Di London, anggota parlemen Fiona Bruce, ketua komisi hak asasi manusia Partai Konservatif, juga menuntut jawaban atas kasus Gui.
"Langkah apa yang diambil oleh Inggris untuk mengangkat kasus ini dan mendesak pihak berwenang Tiongkok mengizinkan dia meninggalkan Tiongkok? Untuk menyatukan dia kembali dengan keluarganya, termasuk putrinya yang sedang belajar di Cambridge, yang berkampanye untuk membebaskan ayahnya?" serunya.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News