Ilustrasi: Metrotvnews.com
Ilustrasi: Metrotvnews.com

Penerbit Buku Hong Kong Ditangkap di Kereta Tiongkok

Arpan Rahman • 23 Januari 2018 20:12
Beijing: Seorang penerbit Hong Kong dengan kewarganegaraan Swedia dilaporkan telah ditangkap di sebuah kereta ke Beijing. Kendati dirinya disertai oleh dua diplomat Swedia.
 
Gui Minhai menjadi berita utama saat ia lenyap di Thailand pada 2015 dan kemudian muncul kembali di Tiongkok, bersama dengan rekan penerbit lainnya dari Hong Kong.
 
Dibebaskan dari tahanan pada Oktober, dia lantas tinggal di Ningbo. Putrinya Angela berkata bahwa ayahnya sedang melakukan perjalanan ke kedutaan besar Swedia untuk menjalani pemeriksaan kesehatan.
 
Angela memimpin sebuah kampanye dari Inggris untuk membebaskan ayahnya dan mengatakan kepada Radio Swedia bahwa ayahnya telah bepergian untuk menemui seorang dokter Swedia karena dia menunjukkan gejala penyakit neurologis ALS.
 
Namun, seorang teman dekat mengatakan kepada South China Morning Post bahwa Gui dianggap sudah mengajukan permohonan paspor Swedia baru. Mungkin pergi ke kedutaan untuk menyelesaikan permohonan tersebut.
 
Saat ini keberadaan Gui tetap tidak diketahui. Swedia memanggil duta besar Tiongkok atas insiden tersebut.
 
Kereta Gui dari kota timur Ningbo tiba-tiba berhenti, pada Sabtu 19 Januari 2018. Lalu beberapa petugas berpakaian preman membawanya pergi, kata putrinya, meskipun dia tidak tahu lebih banyak rincian penyergapan tersebut.
 
New York Times, yang pertama kali meliput ceritanya, mengatakan bahwa dua diplomat dari konsulat Shanghai sedang menemani Gui, yang telah menerbitkan buku tentang kepemimpinan Tiongkok.
 
Gui mengaku kepada surat kabar tersebut: "Saya hanya tahu bahwa hal-hal telah berubah drastis menjadi lebih buruk."
 
"Pemerintah Swedia menyadari sepenuhnya apa yang terjadi," kata Kementerian Luar Negeri Swedia, tanpa mengkonfirmasi rinciannya, seperti disitat BBC, Selasa 23 Januari 2018.
 
"Tindakan tegas telah diambil pada tingkat politik yang tinggi dan kami telah berhubungan dengan pejabat Tiongkok yang telah menjanjikan informasi langsung tentang kondisinya," cetusnya
 
Kelompok hak asasi manusia percaya bahwa penerbit tersebut menjadi korban tindakan keras terhadap pembangkangan melawan partai komunis Tiongkok yang berkuasa.
 
Bekas koloni Inggris, Hong Kong, bagaimanapun, seharusnya memiliki otonomi hukum yang berbeda sesuai dengan serah terimanya ke Tiongkok pada 1997.

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(FJR)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan