Foto pembakar Al-Quran di Swedia, Rasmus Paludan di Kedutaan Swedia di Turki dalam aksi protes menentang tindakannya. Foto: AFP
Foto pembakar Al-Quran di Swedia, Rasmus Paludan di Kedutaan Swedia di Turki dalam aksi protes menentang tindakannya. Foto: AFP

AS Sebut Pembakaran Al-Quran di Swedia Tidak Sopan, Tapi Ogah Mengutuknya

Fajar Nugraha • 24 Januari 2023 14:43
Washington: Amerika Serikat (AS) menegaskan bahwa tindakan pembakaran Al-Quran di Swedia, sangat tidak sopan. Namun AS tidak melontorkan kutukan apapun atas tindakan itu.
 
"Sesuatu bisa sah tapi mengerikan," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Ned Price kepada wartawan, seperti dikutip AFP, Selasa 24 Januari 2023.
 
“Pembakaran Al-Quran adalah salah satunya,” imbuh Price.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Seperti yang dikatakan perdana menteri Swedia, membakar buku-buku suci bagi banyak orang adalah tindakan yang sangat tidak sopan," tutur Price.
 
Baca: Kecam Swedia atas Pembakaran Al-Qur'an, Erdogan: Jangan Harap Bisa Masuk NATO.

Dia menekankan bahwa AS mendukung kebebasan berserikat dan hak untuk berkumpul secara damai sebagai elemen demokrasi, Price mengatakan: "Dan dia (perdana menteri Swedia) menegaskan bahwa apa yang legal belum tentu sesuai."
 
“Kami memiliki pepatah di negara ini: sesuatu bisa legal tapi mengerikan,” ucapnya. "Saya pikir dalam kasus ini, apa yang telah kita lihat dalam konteks Swedia termasuk dalam kategori itu,” tambahnya.
 
Price mengatakan, mereka yang berada di belakang pembakaran kitab suci Islam “mungkin terlibat dalam upaya yang disengaja untuk mencoba melemahkan persatuan melintasi Atlantik di dalam dan di antara sekutu dan mitra Eropa kita.”
 
Dia mengatakan bahwa kebebasan berserikat dan kebebasan berekspresi memberi orang “hak untuk melakukan tindakan yang mungkin tidak sopan, bahkan mungkin menjijikkan.”
 
“Saya pikir semua deskriptor itu berlaku untuk apa yang kita lihat dalam masalah ini,” lanjutnya.
 
Ditanya oleh wartawan mengapa dia tidak mengutuk pembakaran Al-Quran, Price mengatakan: “Saya pasti tidak akan menahan diri untuk tidak mengutuk ini, tindakan khusus ini, seperti yang saya katakan sebelumnya. Itu menjijikkan. Itu adalah sesuatu yang keji.”
 
“Tentu saja, negara-negara di seluruh dunia memiliki, dan apa yang juga ingin kami junjung tinggi adalah prinsip-prinsip yang sangat demokratis yang kami bicarakan di sini: hak atas kebebasan berkumpul, hak atas kebebasan berekspresi,” tegasnya, mengingat pada setidaknya ‘satu insiden serupa yang terkenal’ yang terjadi di AS sebelumnya, tanpa menjelaskan lebih lanjut.
 
Rasmus Paludan, seorang politikus ekstrimis Swedia-Denmark, membakar Al-Quran pada Sabtu di luar Kedutaan Besar Turki di Stockholm dengan perlindungan polisi dan izin dari Pemerintah Swedia.
 
Baca: Rasmus Paludan Kembali Bakar Al-Qur'an, Dubes RI: Politikus Tidak Waras!.

Tindakan Paludan sontak mengundang kecaman dari negara-negara mayoritas Muslim. Indonesia mengutuk keras aksi menjijikan dari Paludan.
 
Menurut Kemenlu RI dalam pernyataannya menyebutkan, aksi penistaan kitab suci ini telah melukai dan menodai toleransi umat beragama. Kebebasan ekspresi harus dilakukan secara bertanggung jawab.
 

 

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Medcom.id
 
(FJR)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif