Puluhan demonstran pro aborsi berunjuk rasa di sekitar Gedung Putih, Washington, AS, 26 Juni 2022. (Nathan Howard / Getty / AFP)
Puluhan demonstran pro aborsi berunjuk rasa di sekitar Gedung Putih, Washington, AS, 26 Juni 2022. (Nathan Howard / Getty / AFP)

Putusan Mahkamah Agung AS Terkait Aborsi Picu Mobilisasi Massa

Medcom • 27 Juni 2022 17:09
Washington: Dua hari setelah Mahkamah Agung Amerika Serikat (AS) membatalkan perlindungan konstitusional untuk aborsi, yang telah berlaku selama setengah abad, para pembela hak aborsi melanjutkan gerakan mereka. Lilin menyala di luar pengadilan tinggi di Washington pada Minggu malam, 26 Juni 2022.
 
Puluhan penangkapan dan vandalisme dilaporkan selama aksi damai yang berubah menjadi rusuh di sejumlah titik. AS kini mengalami perpecahan barum antara negara bagian yang melarang aborsi dan yang masih mengizinkannya.
 
Setidaknya delapan pemerintah negara bagian AS segera memberlakukan larangan terhadap aborsi, di mana banyak di antaranya dengan pengecualian jika nyawa perempuan dalam bahaya. Jumlah yang sama dilaporkan akan menyusul dalam beberapa pekan ke depan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Layanan aborsi terbesar di negara itu, Planned Parenthood, mengajukan gugatan di Utah untuk memblokir larangan aborsi.
 
Gubernur Demokrat di Michigan dan Wisconsin bergerak dalam rangka menjaga aborsi tetap legal di negara bagian mereka.
 
Mempertahankan larangan aborsi yang sekarang berlaku di South Dakota, tidak terkecuali bagi korban pemerkosaan atau inses, Gubernur dari Partai Republik Kristi Noem menyebut keputusan Mahkamah Agung sebagai "berita bagus untuk mempertahankan kehidupan."
 
Berbicara dalam program "This Week" ABC, Noem juga menyuarakan dukungan untuk undang-undang yang melarang "telemedis aborsi" di mana dokter memberikan resep pil untuk mengakhiri kehamilan. Telemedis akan menjadi pilihan utama prosedur tersebut di tempat aborsi dinyatakan ilegal.
 
Gubernur Asa Hutchinson dari Arkansas juga berargumen bahwa "memaksa seseorang untuk mengandung seorang anak hingga akhir kehamilan" untuk menyelamatkan bayi yang belum lahir adalah penggunaan yang "tepat" atas kekuasaan pemerintah.
 
Ia mengatakan dalam "Meet The Press" NBC bahwa pemerintah negara bagian sekarang harus fokus membantu ibu dan bayi baru lahir dengan memperluas layanan seperti adopsi.
 
Tapi anggota Partai Republik itu juga menentang larangan aborsi federal, yang merupakan tujuan utama kelompok-kelompok agama. Hutchinson juga tidak menyetujui pembatasan kontrasepsi, yang katanya "tidak akan disentuh" di Arkansas.
 
Kekhawatiran bahwa Mahkamah Agung akan berusaha untuk menargetkan hak-hak lain, seperti pernikahan sesama jenis dan kontrasepsi, memicu unjuk rasa nasional sejak hari Jumat. Pasalnya, mayoritas Mahkamah Agung AS kini berasal dari sisi konservatif dampak dari kebijakan mantan presiden Donald Trump.
 
Baca:  Trump Presiden Pertama AS yang Hadiri Gerakan Anti-Aborsi
 
Presiden Joe Biden telah mengecam keputusan Mahkamah Agung dan menyebutnya sebagai "kesalahan tragi." Namun, ia mengakui dirinya tidak bisa bertindak banyak.
 
Harapan utama presiden saat ini adalah para pemilih membela hak-hak aborsi dalam Pemilu November. Biden berjanji untuk membela hak-hak reproduksi perempuan sebisa mungkin.
 
Di Wisconsin, di mana undang-undang 1849 yang melarang aborsi dengan pengecualian mungkin berlaku, Gubernur Tony Evers berjanji menawarkan grasi kepada setiap dokter yang menghadapi tuntutan hukum.
 
Gubernur Michigan Gretchen Whitmer berjanji untuk berjuang habis-habisan dengan mengatakan perintah sementara telah diajukan dalam rangka menjaga aborsi tetap legal di negara bagiannya.
 
Anggota Kongres Alexandria Ocasio-Cortez memperingatkan bahwa ke depannya akan terjadi skenario terburuk. Ketika perempuan dipaksa untuk melanjutkan kehamilan yang tidak diinginkan, ia akan melakukan perjalanan jauh ke negara bagian di mana aborsi tetap legal, atau menjalani aborsi diam-diam.
 
"Memaksa wanita untuk hamil di luar kehendak mereka akan membunuh mereka. Itu akan membunuh mereka," kata anggota parlemen progresif itu kepada NBC, mendesak Biden untuk mengeksplorasi gagasan membuka klinik perawatan kesehatan di tanah federal pada negara bagian konservatif untuk membantu rakyat mengakses layanan aborsi.
 
Survei CBS yang dirilis Minggu kemarin menunjukkan bahwa mayoritas (59 persen) orang Amerika dan 67 persen wanita tidak menyetujui keputusan pengadilan yang melarang aborsi. (Kaylina Ivani)
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif