Raja Charles III saat berada di Westminster Hall, Selasa, 12 September 2022. (HENRY NICHOLLS / POOL / AFP)
Raja Charles III saat berada di Westminster Hall, Selasa, 12 September 2022. (HENRY NICHOLLS / POOL / AFP)

Seminggu Sebagai Raja: Apa Saja yang Sudah Dilakukan Raja Charles III?

Fajar Nugraha • 19 September 2022 06:38
London: Raja Charles III dalam seminggu terakhir telah menghadapi tugas sulit dalam menangani kesedihannya sendiri atas kematian ibunda tercinta. 
 
Dengan Inggris tersapu gelombang sentimen pro-monarki sejak Ratu Elizabeth II meninggal pada 8 September, Charles yang berusia 73 tahun telah mendapat pujian yang hampir bersifat universal di media.
 
Tapi pekan pertamanya sebagai raja tidak sepenuhnya terlepas dari noda. Apa saja yang terjadi:

Naik Takhta

Charles menjalani penantian terlama untuk naik takhta dalam sejarah Inggris. Semua mata tertuju kepadanya ketika dia menyampaikan pidato perdana, sehari setelah kematian Ratu.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Duduk di meja kayu dengan setelan hitam dan dasi pada Jumat pekan lalu, Charles menggabungkan penghormatan pribadi kepada ibunya - "mama tersayang" - dengan janji tentang bagaimana dia akan memerintah sebagai raja konstitusional seremonial.
 
"Seperti yang dilakukan Ratu sendiri dengan pengabdian tak tergoyahkan, saya juga sekarang dengan sungguh-sungguh berjanji pada diri saya sendiri, sepanjang waktu yang Tuhan berikan kepada saya, untuk menegakkan prinsip-prinsip konstitusional di jantung bangsa kita," kata Raja Charles III.
 
Dia juga berjanji untuk mundur dari kegiatan amal yang sempat membuatnya dituduh ikut campur dalam politik nasional di masa lalu. Hal itu pernah menjadi masalah besar di mana seharusnya seorang monarki di Inggris bersikap netral dalam politik.
 
Mengatasi masalah lain yang lebih pribadi, Raja Charles III menyampaikan rasa "cinta" untuk putra bungsunya yang terasing, Harry serta menantunya, Meghan, dalam pidato perdana sebagai raja.
 
Surat kabar Daily Mail menyebut ucapan cinta itu sebagai "penghormatan yang sangat indah dan sangat pribadi." Sementara mantan koresponden kerajaan BBC, Peter Hunt, mengatakan ucapan sang raja "sangat sempurna" di salah satu dari beberapa ulasan positif di media sosial.

Komitmen Inggris

Peran Charles selanjutnya adalah mengawasi pemindahan jenazah Ratu Elizabeth II ke Edinburgh dari tanah miliknya di Balmoral. Ia kemudian memimpin prosesi peti jenazah ibunya yang dibawa ke katedral St. Giles di ibu kota Skotlandia pada Senin lalu.
 
Melintasi ribuan kilometer via jalur udara - terlepas dari komitmen seumur hidup di bidang lingkungan - Raja Charles III terbang melintasi langit Skotlandia menuju London, kemudian ke ibu kota Irlandia Utara, Belfast, pada Selasa kemarin untuk pertemuan dengan para pemimpin politik yang saling bermusuhan di provinsi itu.
 
Perjalanan tersebut, dan satu lagi menuju Wales pada hari Jumat, dirancang untuk menunjukkan komitmen Raja Charles III terhadap hubungan Inggris yang semakin tegang di tengah kekhawatiran bahwa dua dari empat negaranya - Skotlandia dan Irlandia Utara - suatu hari nanti akan memisahkan diri.
 
"Saya mengambil tugas baru untuk menghadirkan kesejahteraan untuk semua penduduk Irlandia Utara," katanya dalam pidato di Kastil Hillsborough.
 
Sepanjang minggu, peran menonjol dari istri keduanya, Camilla, yang sekarang dikenal sebagai Permaisuri, nyaris tidak menarik perhatian. Jauh berbeda dari tahun 1990-an dan awal 2000-an ketika hubungan Charles dengannya menjadi sorotan media.
 
Baca:  Kenang Ratu Elizabeth II, Camilla: Mata Biru dan Senyumannya Tak Terlupakan

Kepuasan Publik

Sebuah survei terbaru yang mengukur sikap publik Inggris terhadap Raja Charles III menunjukkan curahan simpati -- dan secara umum ulasan positif.
 
Pada awal minggu, tiga perempat orang Inggris (73 persen) mengatakan kepada lembaga survei YouGov bahwa Raja Charles III telah memberikan kepemimpinan yang baik, dengan hanya 5,0 persen yang mengatakan dia telah melakukan pekerjaan buruk.
 
Melihat masa pemerintahannya, 63 persen mengatakan bahwa Raja Charles III akan melakukan pekerjaan dengan baik, dengan hanya 15 persen yang berpikir sebaliknya.
 
Itu menandai kenaikan tajam sejak survei pada Mei lalu, ketika hanya sepertiga responden mengatakan dia akan menjadi raja yang baik, sementara proporsi yang hampir sama mengatakan dia tidak akan menjadi raja.
 
"Dia telah membuat awal yang sangat kuat, dan saya pikir secara khusus dia menunjukkan monarki akan menjadi lebih terbuka ke depan," kata Vernon Bogdanor, seorang ilmuwan politik dan sejarawan Inggris.
 
"Selama Raja Charles III tidak melakukan kesalahan, saya berharap monarki menikmati tingkat dukungan yang sama seperti di bawah Ratu Elizabeth, mungkin lebih dari itu," Robert Hazell, pakar konstitusi dari University College London, mengatakan kepada AFP. 

Terkesan Angkuh

Skandal baru-baru ini seputar keluarga Windsors, dari hubungan Pangeran Andrew dengan miliarder pedofil AS Jeffrey Epstein dan tuduhan rasisme dari istri Pangeran Harry, Meghan Markle, untuk sementara tidak menjadi pembicaraan publik.
 
Tetapi Raja Charles III telah dua kali tertangkap kamera menampilkan semacam perilaku angkuh, yang mungkin telah merusak upayanya untuk mendorong monarki ke arah yang lebih modern.
 
Sabtu lalu ketika proses aksesinya diresmikan, Raja Charles III sempat terlihat memberi isyarat angkuh kepada para ajudannya untuk membersihkan meja tempat dia akan menandatangani dokumen. Kemudian pada hari Selasa, dia juga terdengar mengeluh tentang penanya yang bocor.
 
"Ya Tuhan, saya benci hal ini!" Charles mengeluh, yang kemudian menyerahkan pena bocor itu kepada istrinya.
 
"Saya tidak tahan dengan hal seperti ini, selalu saja seperti ini," lanjutnya, tidak menyadari ada sorotan kamera di ruangan itu.
 
Masalah lain adalah pemberhentian sekitar 100 staf di bekas kediaman resminya, Clarence House. Serikat pekerja mengecam pemberhentian itu sebagai sesuatu yang "tidak berperasaan."
 
(WIL)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif