Sekjen PBB Antonio Guterres saat Brussels, Belgia pada 24 Juni 2021. (JOHN THYS / AFP / POOL)
Sekjen PBB Antonio Guterres saat Brussels, Belgia pada 24 Juni 2021. (JOHN THYS / AFP / POOL)

Sekjen PBB Desak AS Cabut Sanksi Iran Sesuai Perjanjian 2015

Internasional Amerika Serikat nuklir iran politik iran Iran as-iran Sekjen PBB
Willy Haryono • 30 Juni 2021 15:16
New York: Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa Antonio Guterres mendesak Amerika Serikat untuk mencabut atau meringankan semua sanksi ekonomi yang telah dijatuhkan kepada Iran sesuai dengan perjanjian nuklir 2015, Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA).
 
Dalam sebuah laporan untuk Dewan Keamanan PBB terkait implementasi JCPOA, Guterres juga meminta pemerintahan AS di bawah Presiden Joe Biden untuk "memperpanjang kelonggaran (sanksi) terkait perdagangan minyak dengan Republik Iran."
 
Permintaan Guterres kepada Washington disampaikan di tengah negosiasi menghidupkan kembali JCPOA di Wina, Austria. JCPOA mengatur mengenai pembatasan program nuklir Iran, dan sebagai gantinya semua sanksi ekonomi dicabut atau diringankan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


AS mundur secara sepihak dari JCPOA pada 2018. Iran membalas langkah tersebut dengan melanggar komitmen JCPOA, termasuk mengenai peningkatan pengayaan uranium, bahan kimia yang dapat digunakan untuk membuat senjata nuklir.
 
"Saya meminta Amerika Serikat untuk mencabut atau meringankan sanksi sesuai dengan yang sudah dipaparkan dalam perjanjian," tutur Guterres, dilansir dari laman CGTN pada Rabu, 30 Juni 2021. Selain kepada AS, ia juga mendesak Iran untuk kembali mematuhi JCPOA.
 
Iran telah meningkatkan kemurnian uranium hingga 60 persen, jauh dari batas 3,67 persen yang diatur dalam JCPOA. Meski tingkat uraniumnya sudah begitu tinggi, sejauh ini Iran hanya menggunakannya untuk keperluan energi masyarakat.
 
"Hingga sekarang saya masih meyakini bahwa pemulihan penuh (JCPOA) merupakan cara terbaik untuk memastikan program nuklir Republik Islam Iran tetap berlangsung damai," ungkap Guterres.
 
Negosiasi untuk menghidupkan kembali JCPOA sudah berlangsung di Wina sejak April lalu. Sejauh ini, Iran mengaku siap mematuhi lagi JCPOA, namun juga meminta AS dan negara-negara lain untuk melakukan hal serupa.
 
Juru bicara pemerintah Iran Ali Rabiei mengatakan bahwa pihaknya tidak terburu-buru dalam menghidupkan kembali JCPOA. Jika memang tidak dapat diselesaikan dalam waktu dekat, ucap Rabiei, maka negosiasi JCPOA akan dilanjutkan ke pemerintahan Presiden Ebrahim Raisi yang akan diresmikan pada Agustus mendatang.
 
Baca:  Iran Tak Terburu-buru Hidupkan Kembali Perjanjian Nuklir 2015
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif