Koordinator Respons Covid-19 Gedung Putih, Ashish Jha. (Jim Watson/AFP via Getty)
Koordinator Respons Covid-19 Gedung Putih, Ashish Jha. (Jim Watson/AFP via Getty)

AS Kritik Strategi 'Nol Covid' di Tengah Aksi Protes Lockdown Tiongkok

Willy Haryono • 28 November 2022 07:17
Washington: Pemerintah Amerika Serikat (AS) mengatakan bahwa strategi "Nol Covid" yang diterapkan Tiongkok dalam mengatasi penyebaran Covid-19 merupakan sesuatu yang "tidak realistis." Pernyataan disampaikan di saat unjuk rasa menentang berbagai pembatasan Covid-19, termasuk kebijakan penguncian (lockdown), berlangsung di sejumlah kota Tiongkok.
 
Ribuan demonstran muncul di Shanghai, Beijing, Urumqi, Wuhan, Chengdu dan kota-kota besar lainnya dalam memprotes lockdown, tes wajib Covid-19, perintah memakai masker dan lain-lain.
 
Negeri Tirai Bambu di bawah kepemimpinan Partai Komunis Tiongkok (CCP) terus menerapkan strategi "Nol Covid" selama berbulan-bulan dalam meredam lonjakan kasus harian Covid-19. Namun hingga kini, wabah Covid-19 masih melanda Tiongkok.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Di beberapa lokasi unjuk rasa, para pedemo meneriakkan: "Xi Jinping! Turun! CCP! Turun!" Jajaran kepolisian di Shanghai, Beijing dan kota besar lainnya telah dikerahkan untuk membubarkan massa.
 
Baca:  Setelah Xinjiang dan Beijing, Giliran Shanghai Dilanda Protes Lockdown Covid-19
 
"Saya rasa akan sangat, sangat sulit bagi Tiongkok untuk mengatasi (penyebaran Covid-19) ini dengan strategi Nol Covid," kata Koordinator Respons Covid-19 Gedung Putih, Ashish Jha, seperti dikutip dari NTD, Senin, 28 November 2022.
 
"Kami rasa strategi tersebut tidak realistis. Sudah jelas bahwa strategi semacam itu juga tidak realistis bagi masyarakat Amerika," sambungnya.
 
Jha mengatakan bahwa vaksinasi, "terutama untuk orang lanjut usia," adalah "jalan untuk mengatasi virus" Covid-19. Sementara lockdown atau Nol Covid disebutnya sebagai strategi yang "sulit untuk dijalankan secara berkelanjutan."
 
Sementara itu di Beijing pada Senin dini hari, dua kelompok demonstran berkumpul di ruas jalan Lingkar Luar dekat Sungai Liangma. Mereka menolak dibubarkan petugas.
 
"Kami tidak mau memakai masker, kami mau kebebasan. Kami tidak mau tes Covid-19, kami mau kebebasan," ucap salah satu grup pengunjuk rasa.
 
Sabtu kemarin, sebuah acara di Shanghai digelar untuk mengenang korban tewas kebakaran di sebuah gedung di Urumqi, Xinjiang. Kebakaran tersebut merupakan pemicu terjadinya gelombang unjuk rasa Covid-19 di Tiongkok saat ini.
 
Banyak warganet Tiongkok menganggap kematian 10 orang di gedung tersebut diakibatkan kebijakan lockdown. Mereka menyebut bahwa banyak penghuni gedung tidak bisa melarikan diri karena terkendala aturan lockdown.
 
Otoritas setempat menggelar konferensi pers dan membantah anggapan semacam itu. Namun banyak warga Tiongkok skeptis atas pernyataan tersebut, dan aksi unjuk rasa pun terus berlanjut hingga kini.
 
(WIL)




LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif