Mark Lowcock, pemimpin agensi kemanusiaan PBB, OCHA. (AFP)
Mark Lowcock, pemimpin agensi kemanusiaan PBB, OCHA. (AFP)

PBB Khawatir Negara Miskin Kesulitan Akses Vaksin Covid-19

Internasional pbb Virus Korona covid-19 pandemi covid-19 vaksin covid-19
Willy Haryono • 23 Desember 2020 14:11
New York: Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperkirakan negara-negara miskin kemungkinan baru dapat mengakses vaksin virus korona (covid-19) dalam jumlah substansial pada pertengahan 2021. PBB menilai hal tersebut dapat membuat negara-negara yang lebih kaya, termasuk di benua Eropa, tetap rentan terhadap gelombang baru infeksi covid-19.
 
"Negara-negara miskin mungkin baru akan menerima vaksin dapat jumlah kecil di kuartal kedua tahun depan, dan mungkin jumlahnya tidak akan bertambah terlalu banyak juga setelahnya," kata Mark Lowcock, pemimpin agensi kemanusiaan PBB, OCHA, dalam sebuah wawancara.
 
Menurutnya, kondisi ini dapat membuat negara-negara di Eropa terancam terkena gelombang baru covid-19 pada 2022 atau tahun-tahun setelahnya, bahkan jika perekonomian mereka pulih di 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Lowcock menyebut covid-19 kemungkinan akan bertahan lebih lama di negara-negara miskin yang sistem kesehatannya rapuh. "Tapi virus ini tetap dapat menyebar ke mana pun di seluruh dunia," tutur Lowcock, dilansir dari laman Guardian pada Rabu, 23 Desember 2020.
 
"Tidak ada tempat yang aman sebelum semua orang aman, karena ini adalah dunia yang sudah terglobalisasi," lanjutnya.
 
Baca:  WHO Kembali Tekankan Kesetaraan Akses Vaksin
 
Ia mengibaratkan jika akses mendapat vaksin murni merupakan sebuah persaingan, maka negara-negara kaya akan mendapatkannya terlebih dahulu, sementara negara-negara miskin akan "berada di antrean paling belakang."
 
Meski memahami bahwa negara-negara penyalur dana riset berhak mendapat akses awal terhadap vaksin, Lowcock mengingatkan bahwa kebijakan nasionalisme vaksin dapat berujung kontraproduktif dan merugikan diri sendiri.
 
Komitmen vaksin pimpinan PBB, dikenal dengan nama Covax, sejauh ini telah berhasil mengamankan 700 juta dosis vaksin untuk didistribusikan ke 92 negara berpenghasilan rendah yang telah mendaftar. Kendati begitu, Lowcock menilai masalah besar masih menanti, termasuk kemungkinan mengenai butuhnya pendanaan untuk masalah distribusinya.
 
Beberapa vaksin yang tersedia saat ini membutuhkan penanganan khusus dalam distribusi, termasuk buatan perusahaan Pfizer yang harus disimpan dalam suhu yang sangat dingin.
 
Masalah lain yang dikhawatirkan Lowcock adalah, vaksinasi covid-19 akan menyedot banyak dana dan sumber daya sehingga imunisasi penyakit lainnya akan cenderung terlupakan.
 
"Ada kekhawatiran nyata bahwa aliran dana kepada Covax akan membuat program imunisasi tradisional lainnya terbengkalai," sebut Lowcock.
 
(WIL)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif